Pernahkah Anda berjalan menyusuri lorong sempit di pasar tradisional, lalu tiba-tiba hidung Anda menangkap aroma wangi bakaran kayu atau aroma manis gula aren yang sangat spesifik? Aroma itu seolah menarik paksa memori Anda kembali ke masa kecil, saat menggenggam tangan nenek dan menunjuk-nunjuk bungkusan daun pisang di atas tampah bambu. Namun, coba perhatikan kembali sekeliling Anda hari ini. Di pusat perbelanjaan modern atau deretan kafe kekinian, aroma itu nyaris tak terdengar. Faktanya, banyak warisan rasa kita yang kini berstatus terancam punah!
Dunia kuliner Indonesia memang sedang mengalami ledakan inovasi. Kita melihat croissant yang digabung dengan geprek, atau minuman boba yang ada di setiap tikungan jalan. Namun, di balik gegap gempita makanan viral tersebut, ada sebuah sunyi yang menyedihkan dari dapur-dapur tradisional. Para pembuat kue subuh dan pengolah kudapan kuno kini mulai menua, sementara generasi muda lebih tertarik meracik kopi dengan mesin espresso daripada menumbuk beras menjadi tepung secara manual.
Mari kita akui, mencari kudapan otentik kini layaknya mencari jarum di tumpukan jerami. Jika Anda tidak bangun lebih pagi dan bergegas ke sudut pasar tradisional yang becek, Anda mungkin tidak akan pernah lagi mencicipi mahakarya leluhur ini. Berikut adalah penelusuran mendalam mengenai lima kuliner Indonesia yang statusnya sudah terancam punah! dan mengapa kita harus mulai peduli sekarang juga.
1. Clorot: Seni Geometris dalam Balutan Janur

Jika kita bicara soal estetika, Clorot adalah juaranya. Kudapan khas Jawa Tengah dan Purworejo ini memiliki bentuk kerucut yang sangat unik. Bungkusnya bukan sembarang daun, melainkan janur (daun kelapa muda) yang diulir membentuk wadah panjang menyerupai terompet kecil.
Mengapa Clorot masuk dalam daftar kuliner yang terancam punah!? Jawabannya ada pada tingkat kesulitan pembuatannya. Membuat wadah dari janur membutuhkan keterampilan tangan yang mumpuni. Jika ulirannya tidak rapat, adonan cair yang terbuat dari tepung beras, gula merah, dan santan akan bocor saat dikukus.
Cara makannya pun sangat ikonik dan melatih kesabaran. Anda tidak membukanya seperti membuka bungkus permen, melainkan menekan ujung bawah kerucut hingga isinya yang kenyal keluar dari bagian atas. Rasa manis legit yang berpadu dengan gurihnya santan memberikan sensasi yang tidak bisa digantikan oleh dessert modern manapun. Sayangnya, karena proses pembuatan wadahnya yang memakan waktu lama, para penjual jajanan pasar kini lebih memilih menjual makanan yang bungkusnya praktis seperti plastik atau mika. Di pasar-pasar besar pun, Clorot kini hanya muncul di momen-momen tertentu atau di tangan satu-dua penjual lansia yang masih setia menjaga tradisi.
2. Gulo Puan: Keju Bangsawan dari Palembang

Banyak orang mengenal Palembang karena Pempeknya, namun sedikit yang tahu tentang Gulo Puan. Jika di Eropa ada keju atau karamel premium, maka Palembang memiliki Gulo Puan. Secara harfiah, “Gulo” berarti gula dan “Puan” berarti susu. Makanan ini adalah bukti sejarah bahwa nusantara memiliki teknik pengolahan susu yang sangat maju.
Gulo Puan terbuat dari campuran susu kerbau air dan gula pasir yang dimasak selama berjam-jam hingga teksturnya berubah menjadi gumpalan pasir yang manis, gurih, dan berwarna kecokelatan. Dahulu, ini adalah makanan para bangsawan dan sultan di Palembang. Mengingat bahan bakunya yang spesifik—yakni susu kerbau dari kawasan rawa di daerah Pampangan—keberadaannya kini benar-benar terancam punah!
Populasi kerbau air yang menyusut dan proses memasak yang butuh kesabaran ekstra membuat Gulo Puan menjadi barang langka. Anda mungkin masih bisa menemukannya di sekitar Masjid Agung Palembang pada waktu-waktu tertentu, biasanya dibawa oleh pedagang dari desa yang menempuh perjalanan jauh. Namun bagi masyarakat urban, Gulo Puan kini hanyalah legenda yang seringkali hanya terdengar namanya tanpa pernah menyentuh lidah.
3. Kue Rangi: Aroma Wangi Bakaran Kayu yang Kian Sayu

Bagi warga Jakarta atau mereka yang besar di tanah Betawi, Kue Rangi adalah memori masa kecil yang indah. Kudapan yang terbuat dari campuran tepung kanji (aci) dan parutan kelapa ini dimasak di atas cetakan khusus berbahan besi dengan api dari kayu bakar atau sisa-sisa penggilingan padi.
Keunikan Kue Rangi terletak pada saus kental gula merahnya (biasanya dicampur dengan potongan nangka agar wangi). Teksturnya yang renyah di luar namun lembut di dalam dengan aroma smoky dari kayu bakar adalah kombinasi yang mematikan. Namun, status Kue Rangi saat ini sungguh terancam punah! di tengah kepungan makanan cepat saji.
Celah cetakannya yang kecil dan tipis membutuhkan keahlian dalam mengatur api. Di zaman sekarang, mencari kayu bakar di kota besar bukan perkara mudah. Selain itu, keuntungan yang tipis membuat para pedagang Kue Rangi keliling mulai beralih profesi. Jika dulu kita bisa mendengar suara teriakan pedagangnya di depan rumah, kini Anda harus beruntung menemukan satu gerobak tua yang mangkal di sudut pasar tradisional atau dekat sekolah dasar tua yang belum tersentuh modernisasi.
4. Kipo: Si Kecil Hijau dari Kotagede

Yogyakarta tidak hanya soal Gudeg atau Bakpia. Di gang-gang sempit Kotagede, terdapat satu harta karun bernama Kipo. Namanya sendiri konon berasal dari pertanyaan dalam bahasa Jawa, “Iki opo?” (ini apa?), yang kemudian disingkat menjadi Kipo.
Kipo adalah makanan kecil seukuran ibu jari, berwarna hijau alami dari daun suji, berisi parutan kelapa dan gula jawa (unti), yang kemudian dipanggang di atas cobek tanah liat. Proses pemanggangannya memberikan aroma gosong yang khas dan tekstur kulit yang sedikit kenyal namun legit.
Lantas, mengapa Kipo masuk kategori terancam punah!? Kipo adalah makanan yang tidak bisa bertahan lama karena tidak menggunakan pengawet dan santannya yang segar mudah basi. Hal ini membuat Kipo sulit didistribusikan secara luas seperti Bakpia yang bisa masuk ke toko oleh-oleh bandara. Kipo tetap setia di tempat asalnya, Kotagede. Jika para pembuat Kipo generasi tua tidak berhasil mewariskan resep dan semangatnya kepada anak cucu, maka dalam beberapa dekade ke depan, “Iki opo?” mungkin akan benar-benar menjadi pertanyaan karena orang tidak lagi mengenali bentuknya.
5. Grontol Jagung: Sederhana dalam Balutan Kelapa

Mungkin ini adalah kuliner paling sederhana dalam daftar ini, namun kesederhanaannya justru yang membuatnya berharga. Grontol adalah pipilan jagung yang direbus hingga mekar (meletus) dan disajikan dengan parutan kelapa segar serta taburan gula pasir.
Di masa lalu, Grontol adalah sarapan favorit yang mengenyangkan. Namun kini, jagung lebih sering dijumpai dalam bentuk jasuke (jagung susu keju) yang dipenuhi margarin dan susu kental manis. Grontol jagung yang mengandalkan rasa asli jagung dan kelapa gurih kini terancam punah! karena dianggap “makanan kuno” yang kurang bergengsi bagi anak muda.
Padahal, secara nutrisi, Grontol jauh lebih sehat. Penjualnya kini biasanya adalah ibu-ibu sepuh yang duduk di pojok pasar tradisional dengan keranjang bambu tertutup kain jarik. Keberadaan mereka kian terjepit oleh modernisasi pangan yang lebih mengutamakan rasa manis buatan daripada keaslian bahan alam.
Mengapa Warisan Ini Harus Kita Selamatkan?
Muncul pertanyaan penting: mengapa kita harus merasa cemas jika kuliner ini terancam punah!? Bukankah perubahan adalah hal yang wajar dalam dunia kuliner? Jawabannya melampaui sekadar urusan perut. Makanan-makanan ini adalah identitas.
Setiap bungkus Clorot atau setiap gumpalan Gulo Puan menyimpan catatan sejarah tentang bagaimana nenek moyang kita berinteraksi dengan alam. Mereka menggunakan janur karena pohon kelapa melimpah; mereka membuat Gulo Puan karena kerbau adalah sahabat petani; mereka menciptakan Kipo karena tradisi pengolahan beras ketan yang turun-temurun.
Ketika satu jenis makanan tradisional hilang, kita tidak hanya kehilangan satu resep, tetapi kita kehilangan satu bab dalam buku sejarah kebudayaan kita. Kita kehilangan pengetahuan tentang cara mengolah bahan lokal secara berkelanjutan tanpa limbah plastik.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Upaya penyelamatan agar kuliner nusantara tidak semakin terancam punah! sebenarnya bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten:
- Membeli dan Mengonsumsi: Cara paling efektif mendukung pedagang tradisional adalah dengan membeli produk mereka. Jangan tawar harganya secara berlebihan. Ingat, proses pembuatannya jauh lebih rumit daripada membuat kopi instan.
- Mengenalkan pada Generasi Muda: Jika Anda memiliki adik, anak, atau keponakan, ajaklah mereka ke pasar tradisional. Biarkan mereka mencicipi rasa yang tidak ada di mal. Ceritakan sejarah di baliknya.
- Memanfaatkan Media Sosial: Jika Anda menemukan penjual kuliner jadul yang hampir punah, potretlah dan bagikan lokasinya di media sosial. Seringkali, satu unggahan viral bisa memperpanjang napas sebuah usaha kecil yang legendaris.
- Dokumentasi Resep: Bagi Anda yang memiliki akses ke keluarga yang masih menyimpan resep rahasia kuliner kuno, catatlah atau buatlah video tutorialnya. Dokumentasi digital adalah benteng terakhir melawan kepunahan.
Pasar tradisional adalah museum hidup bagi indra perasa kita. Di sanalah letak jantung kuliner asli kita berdenyut, meski kini denyutnya kian lemah. Jangan tunggu sampai makanan-makanan ini benar-benar hilang dan hanya menjadi foto di buku sejarah atau pajangan di museum.
Besok pagi, cobalah bangun lebih awal. Pergilah ke pasar tradisional terdekat di kota Anda. Carilah sudut-sudut yang paling tersembunyi, dan temukanlah harta karun rasa yang sedang berjuang melawan waktu. Nikmati selagi bisa, karena rasa yang terancam punah! ini adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan teknologi secanggih apa pun di masa depan. Mari kita jaga, sebelum piring-piring sejarah kita benar-benar kosong dan hanya menyisakan cerita.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

