Jika Amerika Serikat memiliki panggung untuk kuliner yang jujur, berminyak, namun sangat memuaskan, maka Philly Cheesesteak adalah bintang utamanya. Berasal dari jalanan kota Philadelphia, Pennsylvania, sandwich ini bukan hanya sekadar tumpukan daging dan keju di dalam roti. Ia adalah narasi tentang sejarah imigran, budaya kelas pekerja, dan perdebatan kuliner yang telah berlangsung selama hampir satu abad.
1. Sejarah: Dari Kereta Hot Dog Menuju Legenda
Kisah Philly Cheesesteak dimulai pada tahun 1930 di sudut South Philadelphia. Pat Olivieri, seorang penjual hot dog, merasa bosan dengan menu dagangannya sendiri. Ia memutuskan untuk membeli daging sapi dari tukang daging lokal, mengirisnya tipis-tipis, lalu memanggangnya di atas panggangan datar miliknya. Aroma daging panggang tersebut menarik perhatian seorang sopir taksi yang sedang lewat. Setelah mencicipinya, sopir tersebut menyarankan Pat untuk berhenti menjual hot dog dan fokus pada sandwich daging sapi tersebut.
Awalnya, sandwich ini tidak menggunakan keju. Keju baru ditambahkan pada tahun 1940-an oleh seorang manajer toko bernama Joe “Cocky Joe” Lorenza. Inovasi sederhana inilah yang akhirnya melahirkan nama “Cheesesteak”. Kedai kecil milik Pat kemudian berkembang menjadi Pat’s King of Steaks, yang hingga kini masih berdiri dan menjadi kiblat bagi para pecinta kuliner dunia.
2. Anatomi Philly Cheesesteak yang Otentik

Meskipun terlihat sederhana, ada aturan tidak tertulis mengenai apa yang bisa disebut sebagai Philly Cheesesteak “asli”. Menggunakan bahan yang salah dapat memicu perdebatan panjang di kota asalnya.
A. Daging Sapi: Tipis dan Berair
Bagian daging yang paling umum digunakan adalah rib-eye karena memiliki kandungan lemak yang cukup untuk menjaga daging tetap juicy (berair) saat dipanggang. Daging harus diiris sangat tipis, hampir transparan, sehingga saat diletakkan di atas panggangan (griddle), ia akan matang dalam hitungan detik. Beberapa koki memilih untuk mencincang daging tersebut menjadi potongan kecil saat dimasak, sementara yang lain membiarkannya dalam bentuk lembaran tipis.
B. Roti: Fondasi yang Kuat
Roti adalah elemen yang sering diremehkan namun sangat krusial. Di Philadelphia, roti yang digunakan hampir selalu bermerek Amoroso’s rolls. Roti panjang (long roll) ini memiliki karakteristik unik: kulit luar yang cukup kokoh untuk menahan minyak dan sari daging, namun bagian dalamnya sangat lembut. Roti ini tidak boleh terlalu keras agar tidak melukai mulut, namun tidak boleh terlalu lembek agar tidak hancur saat memegang beban daging yang berat.
C. Keju: “The Holy Trinity”
Ada tiga jenis keju yang diterima secara luas:
- Cheez Whiz: Keju cair kalengan yang paling ikonik. Memberikan tekstur yang sangat creamy dan menyatu sempurna dengan daging.
- Provolone: Keju dengan rasa sedikit tajam yang memberikan aroma lebih dewasa.
- American Cheese: Memberikan rasa gurih klasik yang lembut dan mudah meleleh.
3. Budaya Memesan: “Wit” atau “Witout”
Di Philadelphia, ada tata krama tersendiri dalam memesan Cheesesteak, terutama di kedai-kedai legendaris. Jika Anda ingin bawang bombay tumis, Anda cukup mengatakan “wit” (bahasa slang untuk with). Jika tidak, katakan “witout”. Jadi, pesanan standar yang paling populer adalah “Whiz Wit”—yang berarti Cheesesteak dengan keju Cheez Whiz dan bawang bombay.
4. Persaingan Abadi: Pat’s vs. Geno’s

Sumber Foto: https://tonylukes.com/food-tips/why-are-philly-cheesesteaks-famous/
Tidak ada diskusi tentang Philly Cheesesteak tanpa menyebut persaingan antara Pat’s King of Steaks dan Geno’s Steaks. Kedua kedai ini terletak berseberangan di perempatan 9th Street dan Passyunk Avenue. Persaingan ini bukan hanya soal rasa, tapi soal loyalitas. Pat’s mewakili tradisi sebagai penemu, sementara Geno’s (yang berdiri tahun 1966) membawa gaya modern dengan lampu neon yang terang. Bagi turis, mencicipi keduanya secara berdampingan adalah sebuah ritual wajib.
Penjelasan Teknis: Mengapa Begitu Lezat?
Secara teknis kuliner, kelezatan Philly Cheesesteak terletak pada fenomena kimia yang disebut Reaksi Maillard. Saat irisan daging tipis menyentuh panggangan besi yang sangat panas, protein dan gula dalam daging berinteraksi menciptakan lapisan kecokelatan yang kaya akan rasa umami. Minyak dari lemak daging yang mencair kemudian terserap oleh roti, sementara keju cair bertindak sebagai “lem” yang menyatukan seluruh komponen tersebut. Inilah yang membuat setiap gigitan terasa sangat padat akan rasa.
Kesimpulan
Philly Cheesesteak adalah bukti bahwa kesederhanaan bahan makanan, jika diolah dengan teknik yang tepat dan latar belakang sejarah yang kuat, dapat menjadi warisan budaya yang mendunia. Ia adalah makanan rakyat yang berhasil masuk ke dalam menu restoran mewah, namun tetap paling nikmat dinikmati di pinggir jalan Philadelphia sambil berdiri.
Sandwich ini bukan hanya soal mengenyangkan perut dengan 1.000 kalori, melainkan soal merayakan sejarah kelas pekerja Amerika. Philly Cheesesteak mengajarkan kita bahwa sebuah mahakarya kuliner tidak selalu butuh bahan mahal—terkadang, hanya butuh irisan daging yang tepat, roti yang jujur, dan lelehan keju yang menyatukan semuanya dalam sebuah kebahagiaan sederhana.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


