Di balik teksturnya yang renyah di luar namun lembut di dalam, Roti Canai menyimpan cerita panjang tentang migrasi, budaya, dan keterampilan tangan yang luar biasa. Hidangan ini bukan sekadar menu sarapan; ia adalah jembatan budaya yang menghubungkan tradisi kuliner India dengan lidah masyarakat Melayu. Kini, roti pipih yang diputar dan dilempar ini telah diakui sebagai salah satu roti terbaik di dunia versi berbagai platform kuliner internasional.
1. Jejak Sejarah: Dari Chennai ke Semenanjung Melayu
Nama “Canai” sering kali diperdebatkan asal-usulnya. Sebagian besar sejarawan kuliner meyakini bahwa nama tersebut berasal dari kota Chennai di India, tempat asal para imigran yang membawa resep roti ini ke Malaysia. Versi lain menyebutkan bahwa “Canai” berasal dari kata dalam bahasa Melayu yang berarti “menggulung” atau “memipihkan” adonan.
Di India, hidangan ini dikenal sebagai Parotta. Namun, setelah menetap di Malaysia, resepnya mengalami adaptasi rasa dan teknik hingga akhirnya lahir profil Roti Canai yang lebih ringan, berminyak, dan sangat pas dipadukan dengan berbagai jenis kari lokal.
2. Seni Pembuatan: “Terbang” untuk Tekstur Sempurna

Keunikan utama hidangan ini terletak pada cara pembuatannya. Tidak seperti roti biasa yang dipanggang, adonan ini harus melalui proses “tebar” atau dilempar dan diputar di udara.
- Tujuan Teknik: Putaran udara ini bertujuan untuk menipiskan adonan hingga transparan tanpa membuatnya robek.
- Efek Lapis: Saat adonan tipis tersebut dilipat kembali, udara terperangkap di antara lapisan, menciptakan tekstur flaky (berlapis-lapis) yang renyah setelah dipanggang di atas wajan datar berminyak.
3. Anatomi Penyajian yang Otentik
Sebuah piring Roti Canai tidak akan lengkap tanpa pendampingnya. Secara tradisional, hidangan ini disajikan dengan:
- Kuah Dhal: Kari kacang-kacangan yang kental dan gurih.
- Kari Ikan atau Ayam: Memberikan sensasi rempah yang tajam dan pedas.
- Sambal: Seringkali ditambahkan sedikit sambal merah untuk memberikan tendangan rasa pedas-manis.
Di banyak kedai, pengunjung sering meminta penyajian “Banjir”, di mana roti dipotong-potong kecil lalu disiram kuah kari hingga tenggelam, menciptakan sensasi rasa yang meresap ke setiap lapisan roti.
4. Variasi Modern: Dari Gurih hingga Manis

Sumber Foto: https://www.idntimes.com/food/recipe/resep-roti-canai-untuk-teman-makan-kari-bikin-yuk-01-3kz8p-nh430r
Seiring berjalannya waktu, kreativitas kuliner melahirkan berbagai varian baru:
- Roti Telur: Dicampur dengan kocokan telur di dalamnya.
- Roti Bawang: Menggunakan irisan bawang merah untuk aroma lebih harum.
- Roti Tissue: Versi sangat tipis dan garing yang dibentuk kerucut tinggi, biasanya diberi susu kental manis.
- Roti Boom: Ukurannya lebih kecil, lebih tebal, dan jauh lebih manis karena kandungan mentega dan gulanya yang tinggi.
Mengapa Roti Canai Begitu Dicintai?
Secara teknis kuliner, daya tarik utamanya adalah kontras tekstur. Penggunaan lemak (biasanya minyak samin atau margarin) dalam adonan memberikan rasa gurih yang kaya. Selain itu, harganya yang sangat terjangkau menjadikannya hidangan yang demokratis—bisa dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari sarapan di pinggir jalan hingga menu restoran mewah.
Kesimpulan
Roti Canai adalah bukti nyata bagaimana sebuah tradisi bisa melintasi samudera dan beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa kehilangan jati dirinya. Ia adalah hasil dari kesabaran dalam menguleni adonan dan ketangkasan tangan dalam menebarkannya. Menikmati sepotong roti ini bersama segelas Teh Tarik hangat bukan sekadar aktivitas makan, melainkan pengalaman merayakan keharmonisan budaya dalam setiap suapannya.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


