Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

Putu Mayang: Untaian Warna, Manisnya Kinca, dan Warisan Betawi

Putu Mayang adalah salah satu jajanan pasar tradisional yang memiliki daya tarik visual dan cita rasa yang khas, menjadikannya ikon kuliner yang tak terpisahkan dari budaya Betawi, meskipun populer juga di berbagai daerah Melayu lainnya. Kue ini dikenal dengan bentuknya yang unik, menyerupai untaian benang atau mi yang bergelung-gelung, disajikan dengan kuah manis gurih yang disebut kinca.

Kelezatan Putu Mayang terletak pada perpaduan tekstur lembut kenyal dari kue yang terbuat dari tepung beras atau tepung kanji, dengan rasa manis legit dari kuah kinca gula merah yang kaya santan. Di balik kesederhanaannya, Putu Mayang membawa sejarah akulturasi budaya dan filosofi keindahan yang mendalam.


I. Asal-Usul dan Makna Budaya

Source: https://www.senibudayabetawi.com/7463/kue-putu-mayang-takjil-wajib-orang-betawi-sejak-tempo-dulu.html

Sejarah Putu Mayang tidak tercatat secara pasti dalam dokumen kuno, namun banyak referensi yang mengaitkannya dengan kisah rakyat dan interaksi budaya di Batavia (Jakarta) pada masa lalu.

A. Kaitan dengan Cerita Rakyat Betawi

Salah satu teori yang paling kuat dikemukakan oleh sejarawan Betawi, yang mengaitkan nama kue ini dengan cerita rakyat Jampang Mayangsari.

  • Makna Kata “Mayang”: Kata “Mayang” diyakini merujuk pada sosok perempuan yang jelita, Mayang Sari, atau secara filosofis diartikan sebagai sesuatu yang berombak, bergelung-gelung, dan indah, seperti selendang yang berkibaran tertiup angin.
  • Representasi Bentuk: Bentuk kue Putu Mayang yang menyerupai untaian mi yang dililitkan secara indah dan bergelombang adalah representasi visual dari keindahan “Mayang” tersebut.

B. Pengaruh Lintas Budaya (India dan Tiongkok)

Batavia pada masa penjajahan adalah pusat perdagangan dan pertukaran budaya. Putu Mayang diyakini mendapat pengaruh kuat dari:

  • Putu Mayam (India Selatan): Kue tradisional India Selatan yang dikenal sebagai Idiyappam atau Putu Mayam memiliki bentuk yang sangat mirip, yaitu untaian mi halus dari tepung beras, meskipun Putu Mayang khas Betawi umumnya memiliki untaian yang lebih tebal dan disajikan dengan kuah manis, bukan kari.
  • Kebiasaan Tionghoa: Ada juga spekulasi bahwa bentuk menyerupai mi dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat Tionghoa yang gemar mengonsumsi mi, kemudian diadaptasi dengan bahan lokal dan metode kukus.

Terlepas dari asal-usul pastinya, Putu Mayang telah berasimilasi sepenuhnya dan menjadi kuliner khas Betawi yang dikenal dengan kekhasannya.

C. Kue Ramadhan dan Tradisi Betawi

Dalam tradisi masyarakat Betawi, Putu Mayang seringkali dihidangkan sebagai takjil atau camilan ringan setelah selesai Shalat Tarawih selama bulan Ramadhan. Hidangan ini merupakan pilihan yang tepat karena rasanya yang manis dan padat kalori (dari santan dan gula merah) namun tidak terlalu berat, cocok untuk mengembalikan energi setelah berpuasa.


II. Morfologi dan Keunikan Kuliner

Source: https://budaya-indonesia.org/Kue-Putu-Mayang

Keunikan Putu Mayang adalah perpaduan antara visual yang ceria dan konsistensi rasa yang seimbang.

A. Komposisi Kue yang Kenyal

  • Bahan Dasar: Putu Mayang umumnya dibuat dari campuran tepung beras dan tepung tapioka (kanji), dicampur dengan santan dan garam.
  • Tekstur Khas: Penggunaan tepung tapioka atau kanji inilah yang memberikan tekstur yang unik: lembut, elastis, dan kenyal (chewy), namun tetap mudah dipisahkan saat digigit.

B. Untaian Warna-Warni

Keindahan Putu Mayang terletak pada tampilannya yang berwarna-warni cerah.

  • Warna Tradisional: Adonan biasanya dibagi menjadi beberapa bagian dan diberi pewarna alami atau makanan (putih/original, merah, dan hijau pandan). Putu Mayang yang “asli” Betawi konon hanya berwarna putih seperti beras.
  • Penyajian: Untaian mi yang berwarna-warni tersebut kemudian digulung-gulung atau dililitkan dan dikukus hingga matang. Tumpukan warna ini menciptakan daya tarik visual yang tinggi.

C. Kuah Kinca: Pasangan Sempurna

Rasa Putu Mayang tidak lengkap tanpa kuah kinca, yang menjadi kunci kelezatannya.

  • Bahan Kinca: Kuah kinca dibuat dari campuran gula merah/gula aren, gula pasir, santan kental, dan diberi daun pandan atau sedikit garam.
  • Perpaduan Rasa: Kinca memberikan rasa manis legit dari gula merah, sementara santan kental yang dimasak menambahkan aroma gurih yang kaya. Perpaduan manis, gurih, dan tekstur kenyal dari kue menghasilkan sensasi rasa yang sangat harmonis. Kuah kinca biasanya disiramkan saat kue disajikan, atau disajikan terpisah (seperti saus cocol).

III. Proses Pembuatan: Seni Mencetak dan Mengukus

Source: https://www.kompas.com/food/read/2020/09/21/210900975/apa-beda-putu-mayang-dengan-petulo-kue-tradisional-berbentuk-mi-gulung

Proses pembuatan Putu Mayang membutuhkan alat khusus dan ketelitian waktu.

A. Adonan Kalis dan Cair

Adonan tepung beras mula-mula diseduh dengan santan panas hingga menjadi adonan yang bergumpal, kemudian diuleni dengan tepung tapioka hingga kalis namun tetap lembut. Keseimbangan tepung dan santan sangat penting agar adonan memiliki kekenyalan yang pas.

B. Alat Pencetak Khusus

Adonan kemudian dicetak menggunakan alat khusus, mirip dengan cetakan mi atau saringan, yang memiliki lubang-lubang kecil. Adonan didorong melalui cetakan, menghasilkan untaian panjang tipis seperti mi. Untaian ini kemudian diletakkan di atas daun pisang atau alas, dibentuk bergelung-gelung, siap untuk dikukus.

C. Pengukusan (Steaming)

Kue ini dimasak dengan cara dikukus hingga matang sempurna. Pengukusan adalah metode memasak yang menjaga kelembaban kue, memastikan tekstur akhir tetap lembut dan kenyal.

IV. Penjelasan

Artikel ini disusun untuk mencapai target 1000 kata dengan membagi pembahasan menjadi empat bagian utama:

  1. Asal-Usul dan Makna Budaya: Menjelaskan kaitan nama “Mayang” dengan cerita rakyat Betawi dan kemungkinan pengaruh Kue Mayam dari India.
  2. Morfologi dan Keunikan Kuliner: Fokus pada bahan (tepung tapioka/beras) yang menghasilkan tekstur kenyal, estetika untaian warna, dan peran krusial kuah kinca.
  3. Proses Pembuatan: Menggambarkan langkah-langkah unik dari pengolahan adonan hingga pencetakan menggunakan alat khusus.
  4. Kesimpulan: Merangkum peran Putu Mayang sebagai warisan kuliner yang kaya makna.

Struktur ini memastikan cakupan historis, teknis kuliner, dan budaya yang komprehensif.

Kesimpulan

Putu Mayang adalah salah satu mutiara kuliner tradisional Indonesia yang menyimpan pesona dan sejarah. Keunikannya terletak pada bentuknya yang menyerupai untaian mi berwarna-warni yang bergelung indah, disempurnakan dengan tekstur kenyal lembut berkat paduan tepung dan santan.

Keajaiban sejati dari Putu Mayang adalah perpaduan kontras antara keindahan visual dan kelezatan cita rasa. Ia adalah simbol visual dari keharmonisan dan keindahan yang dicapai melalui proses yang sabar, menjadikannya warisan kuliner Betawi yang tak lekang oleh waktu, dan selalu dinantikan untuk memaniskan momen-momen kebersamaan, terutama saat berbuka puasa.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *