Jalak Bali adalah simbol keunikan, keindahan, dan tantangan konservasi di Indonesia. Bulunya yang didominasi warna putih bersih, burung ini memiliki jambul yang elegan, dan sering disebut ‘kacamata biru’. Spesies endemik Pulau Bali ini menjadi salah satu burung pengicau paling eksotis di dunia. Sebagai satwa liar yang sangat langka dan terancam punah, Jalak Bali menjadi subjek perhatian global.
Identitas Si Putih Menjadikan Pusat Perhatian

Source: https://www.indonesia.travel/uae/ar/destination/bali-nusa-tenggara/bali/jalak-bali
Secara taksonomi, Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) merupakan burung berukuran sedang, panjangnya sekitar 25 cm, dan termasuk dalam suku Sturnidae. Nama ilmiahnya, Leucopsar, berasal dari bahasa Yunani yang berarti “jalak putih,” merujuk pada ciri fisiknya yang paling menonjol. Jalak Bali memiliki corak hitam mencolok hanya pada ujung sayap dan ekornya, memberikan kontras dramatis pada tubuh putihnya. Paruhnya berwarna abu-abu kehitaman dengan ujung kuning kecoklatan. Uniknya, burung jantan dan betina memiliki ciri fisik yang hampir serupa, membuat penentuan jenis kelamin di alam liar menjadi tantangan tersendiri.
Keunikan Jalak Bali tidak hanya terletak pada penampilannya, tetapi juga pada perilakunya. Burung ini dikenal memiliki sifat monogamis sejati. Setelah menemukan pasangan, Jalak Bali akan menghabiskan seluruh hidupnya bersama pasangannya, melakukan hampir semua aktivitas, mulai dari mencari makan, bermain air (mereka sangat menyukai kebersihan dan gemar mandi), hingga menjaga sarang secara bergantian saat bertelur. Kicauannya pun merdu dan khas, berupa campuran siulan dengan jeda nada yang diikuti suara melengking.
Habitat alami Jalak Bali sangat terbatas, yaitu hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali, terutama di Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan daerah penyangga di sekitarnya. Wilayah jelajahnya tergolong sempit, menunjukkan bahwa burung ini bukan tipe yang dapat terbang jauh, menjadikannya sangat rentan terhadap perubahan atau gangguan habitat.
Di Ambang Kepunahan: Tantangan Konservasi

Source: https://www.balibirdpark.com/id/blog/burung-jalak-bali/
Ironisnya, keindahan dan keunikan Jalak Bali menjadi bumerang bagi kelangsungan hidupnya. Status konservasinya diklasifikasikan sebagai Kritis (Critically Endangered) oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) dan termasuk dalam daftar satwa yang dilarang diperdagangkan secara internasional oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora).
Ancaman terbesar bagi Jalak Bali datang dari dua faktor utama: perburuan liar ilegal dan penyusutan habitat. Nilai jualnya yang sangat tinggi di pasar gelap memicu para pemburu untuk mengambilnya dari alam, bahkan hingga populasi di alam bebas pernah menyusut drastis, tercatat hanya tersisa enam ekor saja pada awal tahun 2000-an. Selain itu, alih fungsi lahan dan ancaman pembangunan infrastruktur di wilayah utara Bali juga terus menekan ruang hidup alaminya.
Harapan di Tengah Krisis: Upaya Penyelamatan

Source: https://voi.id/berita/194720/sempat-langka-populasi-burung-jalak-bali-kini-meningkat-di-tnbb
Melihat kondisi kritis ini, berbagai upaya konservasi telah digalakkan, baik oleh pemerintah melalui Balai TNBB, lembaga non-pemerintah, maupun partisipasi aktif masyarakat lokal. Program penangkaran, rehabilitasi, dan pelepasliaran (reintroduction) menjadi kunci utama dalam memulihkan populasi Jalak Bali.
Kabar gembira datang dari upaya gigih ini. Berkat program konservasi yang konsisten, termasuk pelepasan rutin burung hasil penangkaran ke habitat aslinya, populasi Jalak Bali di alam liar menunjukkan peningkatan. Data beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa populasi mereka berhasil melampaui angka 600 ekor, sebuah pencapaian signifikan dari yang hanya tersisa enam ekor dua dekade lalu.
Peningkatan populasi ini tidak hanya terjadi di dalam kawasan TNBB tetapi juga mulai menyebar ke kebun-kebun dan desa-desa penyangga, menandakan keberhasilan adaptasi mereka. Desa-desa adat bahkan turut berperan, menjadikannya konservasi berbasis masyarakat yang berhasil.
Masa Depan Si Putih
Jalak Bali adalah pengingat penting akan kekayaan hayati Indonesia dan betapa rapuhnya keseimbangan ekosistem. Kelangsungan hidup “Permata Putih Pulau Dewata” ini sangat bergantung pada komitmen berkelanjutan dalam menjaga habitat, memberantas perburuan ilegal, dan meningkatkan kesadaran publik. Dengan perlindungan yang optimal, kita berharap kicauan merdu Jalak Bali akan terus terdengar bebas di langit Bali, bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai bagian yang hidup dan berkembang dari warisan alam Indonesia.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


