Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

Panduan Etika Makan di Jepang: Jangan Pernah Tancapkan Sumpit di Atas Nasi!

Panduan Etika Makan di Jepang

Jepang bukan hanya tentang pemandangan Gunung Fuji yang megah atau gemerlap lampu di Shinjuku. Bagi para pelancong, salah satu daya tarik utama Negeri Matahari Terbit adalah kulinernya. Namun, sebelum Anda duduk di sebuah izakaya atau restoran sushi mewah di Tokyo, ada satu hal penting yang harus dibawa selain nafsu makan: pengetahuan tentang tata krama.

Di Jepang, makan adalah sebuah ritual yang sarat dengan penghormatan—kepada bahan makanan, kepada juru masak, dan kepada leluhur. Salah satu kesalahan paling fatal yang sering dilakukan turis adalah menancapkan sumpit tegak lurus di atas mangkuk nasi. Mengapa hal ini begitu dilarang? Mari kita bedah dalam panduan lengkap berikut ini.

Rahasia di Balik Larangan Menancapkan Sumpit di Atas Nasi

Dalam Panduan Etika Makan di Jepang, aturan yang paling sakral berkaitan dengan Tsukitate-bashi. Ini adalah praktik menancapkan sumpit secara vertikal ke dalam semangkuk nasi. Bagi masyarakat lokal, pemandangan ini bukan sekadar ketidaksopanan, melainkan pengingat akan kematian.

Dalam ritual pemakaman Buddha di Jepang (Okuricho), semangkuk nasi dengan sumpit yang ditancapkan tegak lurus diletakkan di depan peti mati almarhum sebagai persembahan. Melakukan hal ini di meja makan dianggap mengundang nasib buruk atau menyamakan suasana makan dengan upacara kematian. Jika Anda perlu meletakkan sumpit, gunakanlah hashioki (sandaran sumpit) atau letakkan secara horizontal di pinggir piring.

Panduan Etika Makan di Jepang: Memahami Penggunaan Sumpit (Hashi)

Sumpit atau hashi adalah alat makan utama, dan cara Anda memegangnya mencerminkan latar belakang pendidikan Anda di mata orang Jepang. Selain larangan menancapkan sumpit, ada beberapa aturan hashi lainnya yang wajib Anda ketahui:

  1. Watashi-bashi (Jembatan Sumpit): Menyilangkan sumpit di atas mangkuk saat sedang tidak digunakan dianggap tidak sopan. Gunakan sandaran sumpit yang disediakan.
  2. Sashi-bashi (Sumpit Menunjuk): Jangan pernah menggunakan sumpit untuk menunjuk orang atau benda. Ini dianggap sangat kasar, sama seperti menunjuk dengan jari telunjuk di budaya Barat namun dengan konotasi yang lebih agresif.
  3. Mayo-bashi (Sumpit Ragu): Jangan menggerakkan sumpit di atas berbagai hidangan sambil berpikir mau mengambil yang mana. Pilihlah dengan mata, lalu ambil dengan sumpit.
  4. Saguri-bashi (Sumpit Menggeledah): Jangan menggunakan sumpit untuk mengaduk isi sup atau mangkuk demi mencari potongan daging atau sayuran tertentu. Ambil apa yang ada di permukaan.

Etika Memindahkan Makanan: Jangan Pernah Lakukan Ini!

Satu lagi larangan keras dalam Panduan Etika Makan di Jepang adalah Akua-bashi atau memindahkan makanan dari sumpit ke sumpit orang lain. Hal ini juga berkaitan erat dengan ritual pemakaman, di mana tulang-belulang jenazah yang telah dikremasi dipindahkan oleh anggota keluarga menggunakan sumpit khusus.

Jika Anda ingin berbagi makanan, ambillah piring kecil (torizara) dan letakkan makanan tersebut di sana agar teman Anda bisa mengambilnya sendiri. Melakukan transfer makanan antar-sumpit akan membuat suasana meja makan menjadi canggung dan suram seketika.

Panduan Etika Makan di Jepang Saat Menikmati Sushi dan Ramen

Setiap hidangan memiliki protokolnya sendiri. Banyak orang mengira sushi harus dimakan dengan sumpit, padahal secara tradisional, nigiri sushi (nasi dengan irisan ikan di atasnya) boleh dimakan dengan tangan kosong. Namun, ada aturan mainnya: jangan mencelupkan nasi ke dalam kecap asin (shoyu). Hal ini akan membuat nasi hancur dan merusak keseimbangan rasa. Celupkan bagian ikannya saja secara perlahan.

Untuk ramen, ceritanya berbeda. Di banyak negara, menyeruput makanan dianggap tidak sopan. Namun, dalam konteks Panduan Etika Makan di Jepang, menyeruput mi (zuzutto) adalah bentuk pujian kepada koki. Menyeruput membantu mendinginkan mi yang panas dan melepaskan aroma kuah secara maksimal. Jadi, jangan ragu untuk bersuara saat menikmati semangkuk ramen panas!

Memulai dan Mengakhiri Makan dengan Rasa Syukur

Budaya Jepang sangat menghargai konsep Mottainai (rasa sesal jika ada sesuatu yang terbuang sia-sia). Oleh karena itu, penting untuk menghabiskan seluruh makanan di piring Anda, termasuk setiap butir nasi.

  • Itadakimasu: Sebelum mulai makan, katakanlah “Itadakimasu” sambil merapatkan kedua telapak tangan. Secara harfiah artinya “Saya menerima dengan rendah hati,” yang merupakan apresiasi untuk tanaman, hewan, petani, dan koki.
  • Gochisosama-deshita: Setelah selesai, katakan kalimat ini yang berarti “Terima kasih atas hidangannya.” Ini adalah tanda bahwa Anda sangat menikmati jamuan tersebut.

Panduan Etika Makan di Jepang di Restoran Formal dan Izakaya

Saat makan di restoran yang menggunakan lantai tatami, pastikan Anda melepas sepatu dan jangan pernah menginjak bantal duduk (zabuton) milik orang lain. Dalam situasi formal, orang yang paling tua atau memiliki status paling tinggi biasanya akan duduk paling jauh dari pintu (posisi kamiza).

Dalam hal minuman, etika “jangan menuang untuk diri sendiri” berlaku kuat. Jika Anda sedang minum bir atau sake bersama rekan, tunggulah orang lain menuangkan untuk Anda, dan pastikan Anda membalas dengan menuangkan minuman ke gelas mereka. Ini adalah simbol kebersamaan dan perhatian terhadap orang lain di meja makan.

Menghindari Kesalahan Umum yang Sering Dilupakan

Selain aturan-aturan besar di atas, ada detail kecil dalam Panduan Etika Makan di Jepang yang sering terlewatkan:

  • Mengangkat Mangkuk: Berbeda dengan budaya makan di beberapa negara Barat atau China, di Jepang sangat disarankan untuk mengangkat mangkuk nasi atau sup mendekati mulut saat makan. Ini membantu mencegah makanan jatuh dan menunjukkan postur makan yang baik.
  • Penggunaan Oshibori: Handuk basah (oshibori) yang diberikan di awal hanya untuk membersihkan tangan, bukan untuk menyeka wajah atau leher, terutama di restoran yang lebih formal.
  • Suasana Tenang: Meskipun izakaya (bar Jepang) bisa sangat bising, di restoran kelas atas atau kedai sushi kecil, menjaga volume suara tetap rendah adalah bentuk penghormatan kepada pelanggan lain.

Memahami tata krama ini mungkin terasa rumit pada awalnya. Namun, inti dari semua aturan ini adalah rasa hormat dan harmoni (Wa). Dengan menghindari kesalahan dasar seperti menancapkan sumpit di atas nasi, Anda menunjukkan bahwa Anda menghargai budaya tuan rumah. Hal ini tidak hanya akan membuat pengalaman makan Anda lebih autentik, tetapi juga akan membuat orang lokal merasa lebih dihargai dan terbuka untuk berbagi lebih banyak tentang keajaiban kuliner mereka dengan Anda.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *