Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

Mencari Jejak Jajanan Jadul yang Kini Mulai Langka Ditemukan

Mencari Jejak Jajanan Jadul

Perkembangan zaman tidak hanya mengubah gaya hidup dan teknologi, tetapi juga membawa pergeseran besar dalam dunia kuliner. Setiap hari, kita disuguhi oleh kemunculan tren makanan baru yang diadaptasi dari luar negeri, mulai dari dessert box yang lumer, minuman boba aneka rasa, hingga aneka kue pastry bergaya Eropa yang estetik. Di tengah gempuran modernisasi kuliner yang serba cepat dan instan ini, perlahan tapi pasti, keberadaan makanan-makanan tradisional masa kecil kita mulai tergeser. Makanan yang dulunya dengan mudah kita temukan di setiap sudut gang, di depan gerbang sekolah, atau di pasar tradisional, kini wujudnya seolah menguap ditelan waktu.

Bagi generasi 80-an hingga 90-an, jajanan masa kecil bukan sekadar makanan pengganjal perut saat jam istirahat sekolah. Makanan tersebut adalah potongan memori, sebuah saksi bisu dari masa-masa tanpa beban di mana kebahagiaan bisa dibeli hanya dengan beberapa keping uang koin logam. Sayangnya, para penjaja makanan tradisional ini perlahan pensiun tergerus usia, dan resep-resep sederhana itu jarang ada yang meneruskan. Oleh karena itu, mari kita bernostalgia sejenak, memutar kembali memori rasa dan aroma, untuk mengingat kembali kuliner legendaris yang kini keberadaannya bagaikan harta karun yang tersembunyi.

Mencari Jejak Jajanan Jadul: Atraksi Seni dan Manisnya Gulali Cetak

Di era 90-an, melihat penjual gulali cetak di depan gerbang sekolah adalah sebuah hiburan tersendiri. Ini bukan sekadar transaksi jual beli makanan, melainkan sebuah pertunjukan seni skala kecil. Sang penjual, biasanya seorang bapak paruh baya, duduk di balik pikulannya yang berisi kuali kecil berisi cairan gula kental berwarna merah terang atau hijau yang terus dipanaskan di atas kompor kecil.

Mencari jejak jajanan jadul yang satu ini di zaman sekarang teramat sangat sulit. Daya tarik utama gulali cetak terletak pada kelihaian tangan penjualnya. Hanya dengan bantuan sebatang lidi bambu kecil, tangan-tangan terampil itu menarik, memutar, dan membentuk cairan gula panas tersebut menjadi berbagai macam rupa. Ada yang dibentuk menjadi burung garuda, bunga mawar, dot bayi, hingga tokoh kartun. Terkadang, bapak penjualnya bisa meniup gulali tersebut hingga menggelembung seperti balon yang bisa berbunyi jika ditiup. Rasanya yang 100 persen manis gula karamel mungkin terasa sangat sederhana bagi lidah anak zaman sekarang, namun proses pembuatannya yang interaktif membuat gulali cetak menjadi mahakarya masa kecil yang tak terlupakan.

Kesegaran Es Gabus: Mencari Jejak Jajanan Jadul di Tengah Teriknya Siang

Ketika bel pulang sekolah berbunyi dan matahari sedang terik-teriknya, es gabus adalah penyelamat dahaga yang paling diburu oleh anak-anak berseragam merah putih. Sesuai dengan namanya, es ini memiliki tekstur yang sangat unik, empuk dan sedikit kenyal menyerupai busa atau gabus saat digigit. Tekstur unik ini didapatkan dari bahan dasar utamanya, yaitu tepung hunkwe yang dimasak bersama santan, gula, dan sedikit pewarna makanan, lalu dibekukan di dalam lemari es.

Bentuk es gabus sangat ikonik, biasanya berupa balok persegi panjang tipis yang dibungkus dengan plastik bening sederhana. Warnanya berlapis-lapis bagaikan pelangi—kombinasi merah muda, hijau, dan kuning yang sangat menggugah selera. Saat ini, mencari jejak jajanan jadul es gabus di jalanan atau pedagang keliling nyaris mustahil. Es gabus telah kalah pamor dengan es krim pabrikan atau gelato yang memiliki tekstur lebih creamy dan rasa yang lebih kompleks. Padahal, gigitan pertama es gabus yang perlahan meleleh dan meninggalkan jejak rasa manis gurih santan di lidah adalah sensasi kesegaran khas Nusantara yang sangat dirindukan.

Mencari Jejak Jajanan Jadul Melalui Gurih dan Manisnya Grontol Jagung

Bergeser dari makanan manis penutup, ada sebuah jajanan tradisional berbahan dasar palawija yang kini nasibnya juga berada di ambang kepunahan, yaitu grontol jagung. Bagi masyarakat di Pulau Jawa, grontol jagung adalah primadona jajanan pasar yang merakyat. Terbuat dari pipilan biji jagung kering yang direbus dalam waktu yang sangat lama hingga mekar dan empuk, menggunakan air kapur sirih agar kulit arinya mudah terkelupas.

Mencari jejak jajanan jadul grontol jagung kini biasanya hanya bisa dilakukan jika kita sengaja blusukan ke pasar-pasar tradisional yang sudah beroperasi sejak subuh. Penyajiannya sangat klasik, diletakkan di atas pincuk daun pisang, kemudian ditaburi dengan parutan kelapa muda yang gurih dan sedikit taburan gula pasir. Perpaduan antara tekstur jagung yang kenyal, rasa gurih dari kelapa parut, dan letupan manis dari gula pasir menciptakan harmoni rasa yang luar biasa di dalam mulut. Aroma daun pisang yang terkena uap panas dari jagung rebus turut menyumbang wangi khas yang membangkitkan selera makan.

Rambut Nenek dan Krupuk Opak: Mencari Jejak Jajanan Jadul yang Ikonik

Tidak ada yang bisa melupakan wujud unik dari jajanan bernama arum manis atau yang lebih akrab disapa oleh anak-anak zaman dahulu sebagai “rambut nenek”. Nama ini disematkan karena bentuk fisiknya yang berupa serat-serat halus gula berwarna pucat yang panjang dan kusut, persis seperti uban orang tua. Berbeda dengan cotton candy (kembang gula kapas) khas pasar malam yang dibuat dengan mesin putar, rambut nenek dibuat melalui proses manual yang panjang, dengan cara menarik adonan gula karamel yang dicampur tepung terigu berkali-kali hingga membentuk benang halus.

Proses mencari jejak jajanan jadul ini dulunya sangat mudah dikenali dari suara alat musik rebab kecil berbunyi “ngik-ngok” yang dimainkan oleh penjualnya yang berkeliling memikul dua kaleng kerupuk besar. Rambut nenek ini disajikan dengan cara dijepit di antara dua keping kerupuk opak berbentuk bundar pipih yang renyah dan berwarna merah muda. Sayangnya, penjual keliling ini kini sudah jarang terdengar melodinya. Anak-anak masa kini mungkin hanya mengenal rambut nenek versi modern yang sudah dikemas dalam plastik kedap udara di supermarket, yang tentu saja kehilangan sensasi magis dari kaleng seng sang penjual keliling.

Mencari Jejak Jajanan Jadul: Sensasi MSG dari Anak Mas dan Mie Remes

Era 90-an adalah era keemasan bagi makanan ringan kemasan ber-MSG yang sukses membuat anak-anak ketagihan, dan merek “Anak Mas” adalah rajanya. Berbeda dengan mi instan yang harus direbus terlebih dahulu, Anak Mas adalah mi kering yang memang dirancang untuk dimakan langsung sebagai camilan. Bungkus plastiknya yang didominasi warna merah dan emas dengan gambar maskot dua anak perempuan dan laki-laki adalah pemandangan wajib di kantin-kantin sekolah.

Momen mencari jejak jajanan jadul kemasan ini membawa kita pada ritual wajib sebelum memakannya: meremas mi di dalam bungkusnya hingga hancur berkeping-keping, membuka bungkus bumbu kuning yang gurih luar biasa (biasanya rasa ayam atau keju), menuangkannya ke dalam plastik, dan mengocoknya kuat-kuat hingga bumbu merata menutupi setiap serpihan mi. Mengunyah mi renyah penuh bumbu gurih ini adalah kebahagiaan hakiki. Seringkali, sisa bumbu yang menempel di sudut plastik akan dijilat sampai bersih tak bersisa. Kini, meskipun banyak bermunculan camilan mi kremes modern dengan berbagai merek, rasa dan sensasi memakan Anak Mas rasa keju versi orisinal tetap menjadi legenda yang menempati tahta tertinggi di hati generasi 90-an, sebuah mahakarya micin yang tak tergantikan oleh zaman.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *