Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

Old Soul in a Modern World: Mengapa Estetika ‘Vintage’ Laufey Sangat Digemari Gen Z

Laufey Sangat Digemari Gen Z

Di tengah gempuran musik hyper-pop, electronic dance music (EDM), dan rap yang mendominasi tangga lagu global, muncul sebuah anomali yang menyegarkan yang menyebabkan Laufey sangat digemari Gen Z. Seorang wanita muda dengan cello, rambut berpita, dan suara baritone yang mengingatkan kita pada era keemasan Hollywood tahun 1950-an tiba-tiba mengambil alih algoritma media sosial. Sosok tersebut adalah Laufey Lín Jónsdóttir, atau yang lebih dikenal sebagai Laufey.

Penyanyi berdarah Islandia-Tiongkok ini tidak hanya menawarkan musik; ia menawarkan sebuah gaya hidup dan estetika. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: Mengapa seorang musisi jazz klasik modern bisa menjadi ikon bagi generasi yang dikenal dengan rentang perhatian (attention span) yang singkat? Jawabannya terletak pada kerinduan kolektif akan masa lalu dan ketenangan. Tidak bisa dipungkiri, saat ini Laufey sangat digemari Gen Z karena ia berhasil menerjemahkan jiwa tua (old soul) ke dalam konteks dunia modern yang serba cepat.

Berikut adalah analisis mendalam mengapa estetika ‘vintage’ dan musikalitas Laufey begitu resonan dengan generasi muda.

1. Kebangkitan Jazz Pop sebagai “Sonic Sanctuary”

Gen Z tumbuh di era digital yang bising. Notifikasi tanpa henti, berita 24 jam, dan tekanan media sosial menciptakan kelelahan mental yang nyata. Musik Laufey hadir sebagai antitesis dari kebisingan tersebut. Ia menawarkan apa yang bisa disebut sebagai “tempat perlindungan sonik” (sonic sanctuary).

Laufey memadukan jazz tradisional dengan melodi pop yang catchy. Ia memperkenalkan struktur akor yang kompleks ala Ella Fitzgerald atau Chet Baker, namun membungkusnya dengan lirik yang sangat relevan dengan kehidupan remaja masa kini.

Ini adalah strategi jenius yang membuat jazz tidak lagi terdengar mengintimidasi atau “musik orang tua”. Bagi Gen Z, mendengarkan Laufey adalah bentuk pemberontakan halus terhadap musik industri yang terlalu diproduksi (over-produced). Kesederhanaan aransemen yang seringkali hanya mengandalkan piano, cello, dan vokal empuk memberikan ruang bernapas bagi telinga pendengarnya.

2. Romantisasi Hidup dan “Main Character Energy”

Salah satu tren psikologis terbesar di kalangan Gen Z adalah konsep “romanticizing your life”—sebuah upaya untuk melihat keindahan dalam aktivitas sehari-hari yang biasa saja. Pergi ke kedai kopi, membaca buku di taman, atau sekadar berjalan kaki di sore hari menjadi momen sinematik jika diiringi lagu yang tepat.

Lagu-lagu Laufey seperti Valentine, Falling Behind, atau From the Start adalah soundtrack sempurna untuk narasi ini. Liriknya yang puitis namun jujur berbicara tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, rasa kesepian di kota besar, dan harapan naif akan romansa.

Alasan mengapa Laufey sangat digemari Gen Z dalam aspek ini adalah karena ia memvalidasi perasaan melankolis mereka dan mengubahnya menjadi sesuatu yang estetik. Ia memberikan izin kepada pendengarnya untuk merasa seperti karakter utama dalam film romantis klasik, meskipun mereka hanya sedang duduk di dalam kereta komuter.

3. Estetika Visual: Pertemuan “Coquette” dan “Old Money”

Keberhasilan Laufey tidak hanya bertumpu pada audio, tetapi juga visual. Di platform seperti TikTok dan Instagram, estetika visual memegang peranan krusial. Gaya berpakaian Laufey sangat selaras dengan tren fashion yang sedang digandrungi Gen Z, yaitu perpaduan antara Coquette Core dan Old Money Aesthetic.

Ciri khas gaya Laufey meliputi:

  • Penggunaan Pita: Aksesori rambut yang memberikan kesan feminin dan innocent.
  • Cardigan dan Kerah Peter Pan: Sentuhan preppy yang klasik dan sopan.
  • Warna Netral dan Pastel: Palet warna yang menenangkan mata dan terlihat mahal namun bersahaja.

Penampilan ini sangat kontras dengan tren Y2K yang mencolok atau streetwear yang agresif. Gaya Laufey merepresentasikan keanggunan yang tak lekang oleh waktu (timeless elegance). Gen Z mengadopsi gaya ini sebagai cara untuk mengekspresikan kedewasaan dan apresiasi terhadap kualitas, bukan sekadar mengikuti tren cepat (fast fashion).

4. Autentisitas Musikal di Era AI

Di masa ketika kecerdasan buatan (AI) mulai merambah dunia kreatif dan banyak penyanyi pop mengandalkan autotune berat, kemampuan teknis Laufey menjadi oase. Ia adalah seorang multi-instrumentalis yang terlatih secara klasik. Latar belakang pendidikannya di Berklee College of Music dan kemampuannya bermain cello di tingkat simfoni memberikan legitimasi yang kuat.

Gen Z sangat menghargai autentisitas. Mereka bisa mendeteksi kepalsuan atau “industry plant” dengan cepat. Fakta bahwa Laufey sangat digemari Gen Z membuktikan bahwa generasi ini sebenarnya merindukan bakat murni. Melihat Laufey tampil memukau hanya dengan gitar atau cello di atas panggung tanpa penari latar atau efek visual berlebihan memberikan rasa kagum dan hormat.

5. Lirik yang “Relatable” dengan Balutan Bahasa Puitis

Meskipun musiknya terdengar tua, topik yang dibawakan Laufey sangat modern. Ia membahas situationship (hubungan tanpa status), kecemasan sosial, dan perasaan tertinggal (FOMO) dibanding teman sebaya.

Dalam lagu Letter to My 13 Year Old Self, Laufey berbicara tentang rasa tidak aman tumbuh sebagai anak blasteran yang merasa “aneh” dan tidak cocok di mana pun. Pesan ini sangat kuat bagi Gen Z yang merupakan generasi paling beragam secara demografis namun sering merasa terasing.

Laufey tidak menggunakan metafora yang terlalu rumit dan sulit dipahami, namun ia juga menghindari bahasa gaul (slang) yang murahan. Ia menggunakan bahasa Inggris yang semi-formal, naratif, dan bercerita (storytelling). Keseimbangan inilah yang membuat liriknya sering dikutip sebagai caption Instagram atau status WhatsApp, memperluas jangkauan viralitasnya.

6. Peran TikTok dalam Membangun Komunitas “Book Club”

Uniknya, basis penggemar Laufey sering beririsan dengan komunitas BookTok (komunitas pecinta buku di TikTok). Musiknya sering dijadikan latar belakang untuk konten rekomendasi buku fiksi sastra atau puisi klasik.

Laufey sendiri aktif berinteraksi dengan penggemarnya melalui media sosial dengan cara yang sangat personal. Ia sering mengadakan “Laufey Book Club” atau membagikan kesehariannya yang tampak normal. Ini menghapus jarak antara idola dan penggemar. Ia tidak memosisikan dirinya sebagai diva yang tak tersentuh, melainkan sebagai “kakak perempuan” yang mengerti perasaan galau adiknya.

Pendekatan marketing organik inilah yang membuat Laufey sangat digemari Gen Z. Mereka tidak merasa sedang “dijuali” sebuah produk musik, melainkan diajak bergabung dalam sebuah komunitas yang menghargai seni, literatur, dan perasaan halus.

Laufey bukan sekadar tren sesaat. Ia adalah simbol dari pergeseran budaya di kalangan anak muda yang mulai lelah dengan kecepatan dunia modern. Melalui perpaduan jazz klasik, estetika vintage, dan kerentanan emosional yang jujur, Laufey berhasil menangkap hati jutaan pendengar muda.

Fenomena di mana Laufey sangat digemari Gen Z mengajarkan kita bahwa di balik layar gawai yang canggih, generasi muda tetaplah manusia yang merindukan koneksi, keindahan yang sederhana, dan musik yang mampu menyentuh jiwa. Laufey membuktikan bahwa menjadi “Old Soul” di dunia modern bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan super yang memikat.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *