Kue Putu merupakan salah satu kudapan tradisional Indonesia yang memiliki tempat khusus di hati masyarakat, bukan hanya karena rasanya yang manis dan gurih, tetapi juga karena pengalaman sensorik unik yang menyertainya. Suara lengkingan uap yang keluar dari celah bambu kecil, kepulan asap putih di pinggir jalan saat senja, dan aroma pandan yang menyeruak adalah identitas tak terpisahkan dari pedagang Putu bambu. Di tengah gempuran camilan modern yang serba instan, Putu tetap bertahan sebagai simbol kesederhanaan yang melintasi generasi, membawa memori kolektif tentang kehangatan malam di perkampungan maupun sudut kota.
1. Penjelasan Asal-Usul dan Sejarah
Secara historis, Kue Putu diduga memiliki akar yang kuat dari pengaruh kuliner Tiongkok yang berakulturasi dengan bahan lokal Nusantara. Nama “Putu” sendiri disinyalir berasal dari kata Puttu dalam bahasa Tamil (India Selatan), yang merujuk pada hidangan berbahan dasar tepung beras kukus. Namun, di Indonesia, jejak tertua kudapan ini ditemukan dalam naskah kuno Serat Centhini yang ditulis pada awal abad ke-19 (sekitar tahun 1814).
Dalam naskah tersebut, Putu disebut sebagai salah satu hidangan yang disajikan dalam konteks jamuan tradisional di tanah Jawa. Adaptasi lokal menggunakan gula jawa (gula merah) sebagai isian dan parutan kelapa sebagai taburan menjadikannya sangat khas Indonesia, mengingat kedua bahan tersebut sangat melimpah di wilayah tropis ini. Hal ini membuktikan bahwa Kue Putu bukan sekadar makanan, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah dan adaptasi budaya selama ratusan tahun.
2. Anatomi Bahan dan Rahasia Rasa

Sumber Foto: https://www.dreamstime.com/kue-putu-indonesian-traditional-street-food-made-bamboo-container-image275184812
Kekuatan utama dari sepotong Kue Putu terletak pada penggunaan bahan-bahan alami yang segar. Berikut adalah komponen utama yang membentuk karakteristiknya:
- Tepung Beras Butiran Kasar: Berbeda dengan kue basah pada umumnya yang menggunakan tepung halus, adonan Putu dibuat dari tepung beras yang dikukus setengah matang kemudian diayak hingga berbutir kasar. Tekstur ini penting agar uap panas bisa melewati sela-sela adonan dengan merata saat dikukus dalam bambu.
- Gula Merah (Gula Jawa): Terletak di bagian tengah, gula merah akan mencair saat terkena uap panas tinggi. Efek “lava manis” inilah yang memberikan sensasi kejutan rasa saat digigit.
- Aroma Pandan dan Suji: Warna hijau alami didapatkan dari perasan daun suji, sementara aroma harum yang menggugah selera berasal dari daun pandan yang dimasukkan ke dalam air rebusan di bawah dandang.
- Parutan Kelapa: Taburan kelapa parut yang diberi sedikit garam berfungsi sebagai penyeimbang rasa ( penyeimbang rasa ). Rasa gurih kelapa memotong rasa manis pekat dari gula merah, menciptakan harmoni rasa yang pas.
3. Teknik Memasak: Simfoni Bambu dan Uap
Hal yang paling ikonik dari pembuatan Kue Putu adalah penggunaan alat masak tradisionalnya. Adonan dimasukkan ke dalam potongan bambu kecil yang berfungsi sebagai cetakan sekaligus penghantar panas. Bambu dipilih karena memiliki pori-pori alami yang mampu memberikan aroma kayu yang khas, sesuatu yang tidak bisa didapat jika menggunakan cetakan plastik atau logam.
Penjual biasanya menggunakan dandang khusus dengan lubang-lubang kecil di atasnya. Saat uap air yang bertekanan tinggi keluar melalui lubang sempit tersebut, terciptalah bunyi siulan melengking yang khas. Suara ini bukan sekadar efek samping, melainkan alat pemasaran alami yang sangat efektif untuk memanggil pembeli dari mendadak. Proses pengukusan yang singkat namun intens memastikan tepung beras matang sempurna tanpa menjadi terlalu keras atau bantat.
4. Makna Filosofis dan Peran Sosial

Sumber Foto: https://www.kompas.com/food/read/2022/07/15/153200375/resep-kue-putu-gula-merah-tanpa-bambu-pakai-cetakan-kue-mangkok
Di balik bentuknya yang kecil, Kue Putu menyimpan filosofi tentang keseimbangan hidup . Bagian luar yang tawar melambangkan ketenangan, sedangkan bagian dalam yang manis melambangkan kebahagiaan yang harus dicapai dengan usaha. Secara sosial, Kue Putu adalah “kuliner demokratis”—ia dinikmati oleh semua kalangan, mulai dari perumahan elit hingga masyarakat di gang sempit.
Keberadaan pedagang Putu yang biasanya berkeliling pada sore hingga malam hari memberikan warna tersendiri bagi kehidupan sosial di Indonesia. Mereka menjadi bagian dari ritme harian yang menenangkan, memberikan kehangatan di tengah udara malam yang dingin.
Kesimpulan
Kue Putu adalah mahakarya kuliner yang menggabungkan kesederhanaan bahan dengan kecerdasan teknik memasak tradisional. Ia merupakan bukti nyata bahwa warisan budaya tidak selalu harus berupa bangunan besar atau naskah yang rumit, tetapi juga bisa mewujud dalam sepotong kudapan yang manis dan hangat. Melestarikan Kue Putu berarti menghargai kearifan lokal, mendukung ekonomi kecil bagi pedagang tradisional, dan memastikan bahwa suara siulan bambu yang ikonik tetap terdengar di masa depan.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


