Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

Kenapa Namanya Kue Cubit? Mengulik Sejarah Unik di Balik Nama Jajanan Ikonik

Kenapa Namanya Kue Cubit?

Jika kita berbicara tentang jajanan pinggir jalan yang paling membekas di ingatan masa kecil masyarakat urban di Indonesia, khususnya di Jakarta dan sekitarnya, sulit untuk tidak menyebutkan kue mungil nan manis ini. Bentuknya yang bulat kecil, teksturnya yang empuk, serta taburan cokelat meses di atasnya selalu berhasil menggugah selera. Namun, pernahkah terlintas di benak Anda sebuah pertanyaan mendasar saat sedang mengantre di depan gerobak abang penjualnya: Kenapa namanya kue cubit?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele, namun di balik nama yang unik tersebut, tersimpan lapisan sejarah, pengaruh budaya kolonial, hingga aspek teknis sosiologis yang menarik untuk dibedah. Artikel ini akan membawa Anda menelusuri lorong waktu, mengulik dapur-dapur masa lalu, dan menjawab rasa penasaran kolektif kita tentang identitas jajanan ikonik ini.

Etimologi dan Filosofi di Balik Nama

Mari kita mulai dari permukaan yang paling terlihat. Secara bahasa, kata “cubit” dalam bahasa Indonesia merujuk pada tindakan menjepit kulit atau benda kecil menggunakan ujung jari jempol dan telunjuk. Lalu, apa hubungannya dengan sebuah kudapan berbahan dasar tepung terigu dan susu?

Jawaban paling logis untuk pertanyaan kenapa namanya kue cubit? terletak pada cara pengambilannya setelah matang. Jika Anda memperhatikan proses pembuatannya, sang penjual menggunakan sebuah alat cungkil kecil yang terbuat dari besi atau baja. Karena ukuran kuenya yang sangat kecil (berdiameter sekitar 3-5 cm), proses mengangkat kue yang sudah matang dari cetakan besi panas tersebut terlihat seolah-olah kue itu sedang “dicubit” dari lubangnya.

Gerakan refleks yang cepat, presisi, dan dilakukan berulang-ulang oleh sang penjual menciptakan visualisasi unik bagi siapa pun yang menontonnya. Bagi anak-anak sekolah dasar yang menjadi target pasar utama jajanan ini sejak puluhan tahun lalu, istilah “cubit” jauh lebih mudah diingat dan diucapkan daripada nama teknis yang mungkin lebih formal. Nama ini pun akhirnya melekat secara organik dan menjadi identitas paten yang tidak tergantikan oleh nama-nama modern lainnya.

Jejak Kuliner Belanda: Sang “Kakak” Bernama Poffertjes

Meski kini dianggap sebagai jajanan asli Indonesia, sejarah kuliner kita tidak bisa dilepaskan dari pengaruh masa kolonial Belanda. Banyak pakar kuliner berpendapat bahwa jawaban atas pertanyaan kenapa namanya kue cubit? juga berkaitan erat dengan adaptasi lokal dari kudapan asal Negeri Kincir Angin, yaitu Poffertjes.

Poffertjes adalah kue tradisional Belanda yang memiliki bentuk dan tekstur yang sangat mirip dengan kue cubit. Keduanya dibuat dari adonan cair yang terdiri dari tepung, telur, dan susu, kemudian dipanggang di atas cetakan besi yang memiliki lubang-lubang kecil berbentuk setengah bola. Bedanya, Poffertjes tradisional biasanya menggunakan ragi dan disajikan dengan taburan gula halus (gula donat) serta lelehan mentega.

Pada masa penjajahan, masyarakat pribumi yang bekerja di dapur-dapur orang Belanda mulai mengadopsi resep ini. Karena keterbatasan bahan atau menyesuaikan dengan lidah lokal, ragi sering kali diganti dengan pengembang instan, dan topping gula halus diganti dengan meses atau keju yang lebih populer di sini. Transformasi dari Poffertjes kelas atas menjadi jajanan rakyat di pinggir jalan inilah yang memicu perubahan nama. Rakyat jelata mungkin sulit melafalkan kata “Poffertjes” dengan lidah mereka, sehingga mereka menamainya berdasarkan apa yang mereka lihat: proses “mencubit” kue tersebut dari cetakannya.

Rahasia Adonan: Komposisi di Balik Tekstur yang Sempurna

Memahami kenapa namanya kue cubit? juga berarti memahami struktur kuenya sendiri. Mengapa harus dicubit? Mengapa tidak dipotong atau diambil dengan sudip besar? Jawabannya karena tekstur kue ini sangat lembut dan rapuh.

Adonan kue cubit pada dasarnya adalah adonan cake sederhana. Bahan utamanya meliputi:

  • Tepung Terigu: Sebagai struktur utama.
  • Gula Pasir: Memberikan rasa manis dan membantu karamelisasi di pinggiran cetakan.
  • Telur: Sebagai pengikat dan pemberi rasa gurih.
  • Susu Cair/Santan: Memberikan kelembapan dan aroma yang kaya.
  • Baking Powder/Soda Kue: Untuk menciptakan rongga-rongga udara sehingga kue terasa ringan.

Karena komposisi cairnya yang dominan, saat matang, bagian tengah kue cubit biasanya sangat lembut. Inilah yang membedakannya dengan kue pukis yang lebih padat atau kue lumpur yang lebih basah. Tekstur yang “manja” ini memang paling pas diangkat dengan cara dicubit halus menggunakan alat khusus agar bentuknya tetap terjaga dan tidak hancur.

Evolusi Visual: Dari Polos Menjadi Berwarna-warni

Jika Anda bertanya kepada generasi yang tumbuh di tahun 80-an atau 90-an tentang kenapa namanya kue cubit?, mereka mungkin akan bercerita tentang kue berwarna kuning pucat dengan topping meses cokelat yang sedikit meleleh. Namun, jika Anda bertanya pada generasi Z, mereka mungkin akan menunjukkan foto kue cubit berwarna hijau green tea, merah red velvet, atau ungu taro.

Kue cubit sempat mengalami masa mati suri sebelum akhirnya “meledak” kembali sekitar tahun 2014-2015. Saat itu, kue cubit bertransformasi dari jajanan depan sekolah menjadi menu favorit di kafe-kafe elit. Inovasi rasa menjadi kunci. Penambahan bubuk teh hijau dari Jepang atau cokelat premium dari Belgia memberikan nilai jual baru. Meskipun tampilannya berubah menjadi lebih modern dan estetik untuk kebutuhan media sosial, nama “kue cubit” tetap dipertahankan. Hal ini membuktikan bahwa identitas nama tersebut sudah sangat kuat mengakar di benak masyarakat Indonesia.

Fenomena “Setengah Matang”: Sensasi Rasa yang Berisiko namun Dicari

Satu hal yang tidak bisa dipisahkan saat membahas kenapa namanya kue cubit? adalah tren makan kue cubit dalam kondisi setengah matang. Bagi para pecintanya, bagian tengah kue yang masih berupa adonan cair hangat adalah bagian terbaik. Teksturnya yang lumer di mulut memberikan sensasi creamy yang luar biasa.

Fenomena “setengah matang” ini juga yang memperkuat alasan penamaan kue tersebut. Mencungkil kue yang masih cair di bagian atas namun sudah berkulit di bagian bawah membutuhkan teknik “cubitan” yang lebih presisi agar adonan cairnya tidak tumpah berhampiran. Secara teknis kuliner, ini menunjukkan bahwa kue cubit memiliki fleksibilitas tingkat kematangan yang jarang dimiliki oleh kue-kue tradisional lainnya.

Namun, dari sudut pandang kesehatan, konsumsi kue cubit setengah matang sering kali menjadi perdebatan karena risiko bakteri Salmonella dari telur mentah. Meski begitu, bagi banyak orang, risiko itu seolah tertutupi oleh nostalgia dan kelezatan rasa yang ditawarkan.

Aspek Sosiologis: Jajanan yang Menyatukan Strata Sosial

Kue cubit adalah salah satu dari sedikit makanan yang mampu melintasi batas strata sosial. Anda bisa menemukannya di trotoar depan sekolah dasar yang berdebu, di pasar tradisional, hingga di mal mewah dengan harga lima kali lipat.

Lantas, kenapa namanya kue cubit? bisa menjadi topik pembicaraan yang seru antara seorang bos perusahaan dan supirnya? Karena keduanya kemungkinan besar memiliki memori yang sama tentang menunggu abang penjual menuangkan adonan ke dalam cetakan berbentuk bulat atau bunga. Makanan ini menjadi jembatan memori kolektif bangsa. Ia adalah simbol kesederhanaan yang bisa dinikmati siapa saja. Nama “cubit” memberikan kesan akrab, tidak kaku, dan merakyat—sebuah kontras yang menarik jika dibandingkan dengan asal-usulnya yang berasal dari kuliner bangsawan Eropa.

Mengapa Nama Ini Tetap Bertahan di Era Modern?

Di tengah gempuran dessert impor seperti macaron, souffle pancake, hingga croffle, kue cubit tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Mengapa demikian? Selain karena rasanya yang memang enak, nama “kue cubit” sendiri mengandung unsur pemasaran yang kuat tanpa disengaja.

Nama ini singkat, memiliki kata kerja (cubit), dan membangkitkan rasa penasaran. Bagi turis asing yang berkunjung ke Indonesia, mendengar nama “Pinch Cake” (terjemahan bahasa Inggris dari kue cubit) akan jauh lebih menarik perhatian daripada sekadar disebut “Small Sponge Cake”. Ada unsur penceritaan (storytelling) yang terbangun secara otomatis hanya dari namanya saja. Setiap kali seseorang bertanya kenapa namanya kue cubit?, di situlah terjadi proses transfer pengetahuan dan pelestarian budaya secara lisan.

Cara Membuat Kue Cubit Otentik di Rumah

Jika setelah membaca ulasan panjang ini Anda merasa lapar dan ingin bernostalgia, membuat kue cubit di rumah sebenarnya tidaklah sulit. Anda tidak perlu menunggu abang penjual lewat di depan rumah. Berikut adalah panduan singkat untuk menciptakan sensasi kue cubit yang sempurna:

  1. Siapkan Bahan: Campurkan telur dan gula, kocok hingga mengembang (tidak perlu sampai kaku, cukup sampai pucat).
  2. Masukkan Tepung: Tambahkan tepung terigu protein sedang sedikit demi sedikit sambil bergantian dengan susu cair atau santan.
  3. Pengembang: Masukkan sedikit baking powder dan sedikit vanili untuk aroma. Aduk hingga tidak ada gumpalan.
  4. Diamkan: Biarkan adonan beristirahat sekitar 15-30 menit agar pengembang bekerja optimal.
  5. Proses Panggang: Panaskan cetakan (ini krusial!), olesi dengan sedikit margarin. Tuang adonan hingga 3/4 lubang.
  6. Topping: Saat adonan mulai sedikit berlubang-lubang kecil di permukaan, taburkan meses atau keju.
  7. Cubit!: Jika ingin setengah matang, segera cungkil/angkat saat bagian bawah sudah kokoh namun atas masih agak basah. Jika ingin matang sempurna, tutup cetakan sebentar hingga permukaan kering.

Dengan membuat sendiri di rumah, Anda bisa bereksperimen dengan berbagai rasa dan memastikan kebersihan bahan-bahannya. Namun, tentu saja, pengalaman mencungkilnya sendiri dari cetakan panas akan memberikan jawaban paling nyata atas pertanyaan kenapa namanya kue cubit?.

Melestarikan Identitas dalam Tiap Gigitan

Mengetahui sejarah dan asal-usul makanan yang kita konsumsi adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap budaya. Kue cubit bukan sekadar campuran terigu dan gula; ia adalah saksi bisu perjalanan kuliner Indonesia yang mampu menyerap pengaruh asing (Belanda) dan mengolahnya menjadi sesuatu yang sangat lokal dan ikonik.

Mulai dari proses teknis pengangkatannya yang menyerupai cubitan, pengaruh nama dari lidah rakyat yang kesulitan menyebut Poffertjes, hingga eksistensinya yang bertahan melintasi generasi, kue cubit adalah bukti bahwa kreativitas masyarakat Indonesia dalam menamai sesuatu tidak pernah main-main. Nama yang unik terbukti mampu membuat sebuah produk bertahan lebih lama di pasar daripada nama yang terlalu teknis atau membosankan.

Jadi, lain kali Anda melihat abang penjual kue cubit di pinggir jalan, atau saat Anda memesan sepiring kue cubit green tea di kafe kekinian, Anda sudah memiliki cerita menarik untuk dibagikan kepada teman atau keluarga Anda. Anda tidak perlu lagi bingung saat ada yang bertanya: kenapa namanya kue cubit? Karena sekarang Anda tahu bahwa di balik nama mungil itu, ada sejarah besar yang tetap “tercubit” manis di ingatan kita semua.

Apakah Anda tim kue cubit matang sempurna yang renyah di pinggir, atau tim setengah matang yang lumer di mulut? Apapun pilihan Anda, pastikan untuk terus menjaga keberadaan jajanan tradisional ini agar tidak hilang ditelan zaman. Mari kita terus merayakan kekayaan kuliner nusantara, satu cubitan dalam satu waktu.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *