Jalak Bali ( Leucopsar rothschildi ) merupakan salah satu burung paling ikonik dan indah yang dimiliki oleh Indonesia. Sebagai satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di bagian barat Pulau Bali, burung ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi perhatian dunia internasional karena statusnya yang sangat terancam punah. Keanggunan bulu putih bersih dan corak biru di sekitar matanya membuat burung ini dijuluki sebagai “Curik Bali” oleh masyarakat setempat.
Mengenal Morfologi dan Karakteristik Unik

Sumber Foto: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Jalak_Bali_Terbang.jpg
Keistimewaan Jalak Bali terletak pada penampilan yang sangat mencolok dan elegan. Memahami ciri fisiknya adalah langkah pertama untuk menghargai nilai estetikanya yang tinggi.
1. Warna dan Tekstur Bulu
Hampir seluruh tubuh burung ini ditutupi oleh bulu berwarna putih bersih. Satu-satunya yang ditampilkan adalah pada ujung sayap dan ujung ekornya yang memiliki warna hitam pekat. Kontras warna ini memberikan kesan visual yang sangat tegas dan bersih.
2. Ciri Khas Area Mata
Salah satu fitur paling ikonik adalah kulit telanjang di sekitar mata yang berwarna biru tua (biru kobalt). Warna biru ini tidak berasal dari pigmen bulu, melainkan kulit asli yang sangat kontras dengan putihnya bulu di sekitarnya.
3. Jambul yang Megah
Baik jantan maupun betina memiliki jambul di atas kepala. Jambul ini akan berdiri tegak saat burung merasa terancam, sedang memikat pasangan, atau saat sedang berkicau. Keberadaan jambul ini menambah kesan aristokrat pada tampilannya.
4. Suara dan Perilaku
Secara perilaku, mereka adalah burung yang cerdas dan sosial. Kicauannya cukup variatif, mulai dari suara pekikan yang tajam hingga tiruan suara burung lain. Di alam pembohong, mereka cenderung hidup berpasangan (monogami) dan sangat setia terhadap pasangannya sepanjang hidup.
Habitat Asli dan Ekosistem
Secara historis, Jalak Bali menghuni kawasan hutan musim dan savana di bagian barat Pulau Bali. Habitat ini sangat spesifik karena mereka membutuhkan pohon-pohon besar yang memiliki lubang alami untuk bersarang.
Pohon seperti pohon Pilang ( Acacia leucophloea ) sering menjadi tempat favorit mereka untuk mencari makan dan berlindung. Sebagian besar populasi pemangsa yang tersisa saat ini berada di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB) . Kawasan ini merupakan benteng terakhir bagi spesies ini agar tidak punah dari habitat aslinya.
Sejarah Penemuan dan Konservasi Status
Jalak Bali pertama kali diidentifikasi oleh ahli burung asal Inggris, Dr. Baron Rene Caton Rothschild, pada tahun 1912. Namun, keindahan yang luar biasa ini justru menjadi bumerang bagi kelangsungan hidup mereka.
Ancaman Kepunahan
Selama puluhan-puluh tahun, populasi mereka menurun tajam akibat dua faktor utama:
- Perburuan Liar: Karena harganya yang sangat mahal di pasar gelap, banyak orang yang nekat menangkap mereka secara ilegal.
- Hilangnya Habitat: Alih fungsi lahan dan penggundulan hutan mengurangi ketersediaan sarang pohon dan sumber makanan alami.
Pada puncaknya pada tahun 2001, populasi Jalak Bali di alam liar diperkirakan hanya tersisa sekitar 6 ekor saja. Hal ini memicu alarm darurat bagi pelestarian dunia. Organisasi internasional IUCN menetapkan statusnya sebagai Sangat Terancam Punah (Sangat Terancam Punah).
Penjelasan: Upaya Penangkaran dan Keberhasilan Reintroduksi

Sumber Foto: https://www.ancol.com/blog/burung-jalak-bali/
Menghadapi ancaman kepunahan yang nyata, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bekerja sama dengan berbagai lembaga internasional, melakukan terobosan besar dalam hal penangkaran.
Sistem Sertifikasi dan Chip
Berbeda dengan zaman dulu, saat ini masyarakat diperbolehkan memelihara Jalak Bali simpanan burung tersebut berasal dari penangkapran resmi (generasi kedua atau F2). Setiap burung yang legal wajib memiliki sertifikat dan microchip yang ditanam di tubuhnya. Sistem ini bertujuan agar hobi memelihara burung tidak lagi merusak populasi di alam liar, melainkan membantu ekonomi penakar lokal.
Pelepasliaran (Reintroduksi)
Upaya reintroduksi dilakukan secara berkala di Taman Nasional Bali Barat dan beberapa wilayah lain seperti Nusa Penida. Burung-burung hasil penangkaran dibor untuk beradaptasi dengan lingkungan liar sebelum benar-benar dilepas. Hasilnya cukup menggembirakan; populasi di alam liar kini mencapai angka ratusan ekor, meskipun pemantauan ketat tetap diperlukan.
Kesimpulan
Jalak Bali adalah permata mahkota dari keanekaragaman hayati Indonesia. Keberadaannya memberikan pelajaran berharga bahwa keindahan alam yang sangat luar biasa memerlukan perlindungan yang ekstra ketat. Melalui kombinasi antara perlindungan habitat di Taman Nasional Bali Barat, penegakan hukum terhadap pemburu, serta program penangkapan yang melibatkan masyarakat, burung ini perlahan-lahan mulai menghindari jurang kepunahan.
Menjaga Jalak Bali bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai masyarakat untuk tidak membeli burung hasil tangkapan pembohong. Dengan mendukung penangkaran hukum dan pelestarian hutan, kami memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menyaksikan nyanyian “Putih Bersih” ini terbang bebas di langit Pulau Dewata.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


