Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

Bukan Sekadar Murah, Ini Alasan Kenapa Thrifting Sedang di Gemari

Alasan Kenapa Thrifting Sedang di Gemari

Sedang ramai gaya dunia fashion Thrifting dari beberapa tahun ini, yang bisa di bilang perbedaan dari yang sebelumnya mengaggap bahwa membeli barang bekas bisa di kaitkan dengan keterbatasan ekonomi sekarang membeli baju bekas, kini membeli barang bekas sedang di gemari oleh banyak orang. Thrifting istilah keren untuk kegiatan berburu barang bekas layak pakai telah menjelma menjadi fenomena global yang merambah berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga selebritas papan atas. Begitu juga banyak alasan kenapa thrifting sedang di gemari.

Toko-toko barang bekas atau thrift shop kini tidak lagi terlihat kumuh dan gelap. Banyak di antaranya yang dikelola secara profesional dengan konsep butik yang estetis, lengkap dengan kurasi barang yang ketat. Fenomena ini tentu memunculkan pertanyaan besar: Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kegiatan mengaduk tumpukan baju lama ini menjadi begitu prestisius?

Saya akan mengupas tuntas berbagai alasan kenapa thrifting sedang di gemari saat ini, yang ternyata melampaui sekadar faktor harga murah.

Pergeseran Makna: Dari Kebutuhan Menjadi Gaya Hidup

Sebelum masuk ke alasan spesifik, penting untuk memahami konteks sosial yang melatarbelakanginya. Di era digital di mana media sosial seperti TikTok dan Instagram mendominasi, penampilan visual menjadi mata uang sosial yang baru. Namun, ironisnya, tren fast fashion yang memproduksi pakaian secara massal justru membuat banyak orang terlihat “seragam”.

Di sinilah thrifting masuk sebagai antitesis. Ia menawarkan jalan keluar bagi mereka yang bosan dengan keseragaman. Namun, itu hanyalah puncak gunung es. Berikut adalah analisis mendalam mengenai faktor-faktor pendorong utama tren ini.

1. Ekspresi Diri Melalui Kelangkaan (Exclusivity)

Salah satu alasan kenapa thrifting sedang di gemari yang paling utama adalah keinginan untuk tampil beda. Produk fast fashion yang dijual di mal-mal besar biasanya diproduksi dalam jumlah ribuan, bahkan jutaan kodi. Artinya, kemungkinan Anda bertemu dengan orang lain yang memakai baju yang sama persis di sebuah acara sangatlah besar.

Sebaliknya, barang thrift umumnya bersifat one-of-a-kind. Baju yang Anda temukan di pasar loak atau toko vintage mungkin adalah satu-satunya yang tersisa di kota Anda, atau bahkan di negara ini. Mengenakan pakaian thrift memberikan rasa eksklusivitas yang tidak bisa dibeli dengan uang di toko ritel biasa. Bagi generasi muda yang sangat menghargai individualitas, menemukan jaket vintage tahun 90-an bukan hanya soal membeli baju, tapi soal menemukan identitas yang tidak dimiliki orang lain.

2. Bentuk Perlawanan Terhadap Dampak Buruk Fast Fashion

Kesadaran lingkungan menjadi pendorong kuat dalam tren ini. Industri fashion, khususnya fast fashion, adalah salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Proses produksinya menghabiskan air dalam jumlah masif, mencemari sungai dengan pewarna kimia, dan menghasilkan emisi karbon yang tinggi. Belum lagi masalah etika kerja yang sering kali mengabaikan kesejahteraan buruh di negara berkembang.

Generasi Z dan milenial yang semakin “melek” isu lingkungan mulai mencari alternatif. Mereka menyadari bahwa alasan kenapa thrifting sedang di gemari adalah karena sifatnya yang berkelanjutan (sustainable). Dengan membeli pakaian bekas, kita memperpanjang masa hidup sebuah produk dan mencegahnya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Ini adalah bentuk aktivisme nyata yang bisa dilakukan sehari-hari. Memakai baju bekas kini dianggap sebagai pernyataan sikap peduli lingkungan yang keren dan bertanggung jawab.

3. Kualitas Material Vintage yang Lebih Unggul

Pernahkah Anda mendengar ungkapan, “They don’t make them like they used to” (Mereka tidak membuatnya seperti dulu lagi)? Dalam dunia fashion, ungkapan ini sering kali benar adanya.

Banyak pegiat fashion setuju bahwa kualitas pakaian yang diproduksi pada era 80-an, 90-an, hingga awal 2000-an memiliki daya tahan yang jauh lebih baik dibandingkan pakaian produksi massal zaman sekarang. Dahulu, pakaian dibuat untuk bertahan lama (durabilitas tinggi) dengan jahitan yang kuat dan bahan yang lebih tebal. Sementara saat ini, banyak produsen mengejar kuantitas dengan menekan biaya produksi, sehingga kualitas kain sering dikorbankan.

Melalui thrifting, konsumen bisa mendapatkan jaket kulit asli, denim tebal, atau kemeja flanel dengan kualitas material premium yang jika dibeli baru saat ini harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Nilai (value) yang didapatkan dari segi kualitas inilah yang membuat banyak orang enggan kembali membeli barang baru yang cepat rusak.

4. Sensasi Berburu “Harta Karun” (The Thrill of the Hunt)

Berbelanja di mal itu mudah; Anda datang, pilih ukuran, bayar. Namun, thrifting menawarkan pengalaman psikologis yang berbeda. Ada elemen kejutan dan petualangan di dalamnya. Memasuki toko barang bekas ibarat masuk ke area perburuan harta karun.

Anda harus bersabar memilah satu per satu gantungan baju, memeriksa kondisi barang, dan meneliti label merek. Ketika Anda berhasil menemukan barang bermerek (branded) original dengan kondisi mulus di tengah tumpukan baju biasa, otak akan melepaskan dopamin yang memberikan rasa puas luar biasa. Sensasi kemenangan inilah yang membuat thrifting menjadi adiktif.

Banyak konten kreator yang membagikan momen “Jackpot” mereka—saat menemukan barang mewah seperti Dior, Levi’s Big E, atau Ralph Lauren dengan harga “kaki lima”. Cerita-cerita inilah yang semakin memvalidasi alasan kenapa thrifting sedang di gemari sebagai hobi yang mengasyikkan.

5. Cerdas Finansial: Tampil Mewah Tanpa Menguras Tabungan

Meskipun bukan satu-satunya alasan, faktor ekonomi tetap memegang peranan penting. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan ancaman inflasi, masyarakat menjadi lebih bijak dalam membelanjakan uangnya. Thrifting menawarkan solusi cerdas: Anda tetap bisa memenuhi hasrat belanja dan tampil modis tanpa harus mengorbankan anggaran kebutuhan pokok.

Dengan budget Rp100.000 hingga Rp200.000, seseorang bisa mendapatkan 3-4 potong pakaian berkualitas di thrift shop. Bandingkan dengan toko ritel modern di mana uang sejumlah itu mungkin hanya cukup untuk satu kaos polos. Bagi mahasiswa atau pekerja awal karier (first jobber), ini adalah strategi bertahan hidup yang gaya. Mereka bisa bereksperimen dengan berbagai gaya fashion (seperti streetwear, vintage, atau grunge) tanpa rasa bersalah karena biaya yang dikeluarkan sangat minim.


Tips Singkat untuk Pemula Thrifting

Jika Anda mulai tertarik untuk mencoba tren ini setelah membaca alasan kenapa thrifting sedang di gemari di atas, berikut adalah beberapa tips dasar agar Anda tidak salah pilih:

  • Cek Detail Jahitan dan Noda: Periksa bagian ketiak, kerah, dan ujung lengan. Pastikan tidak ada noda permanen atau lubang yang sulit diperbaiki.
  • Ketahui Ukuran Tubuh: Barang thrift biasanya hanya ada satu ukuran (all size). Pastikan Anda mengetahui ukuran lebar dada (LD) dan panjang baju (PB) Anda sendiri, terutama jika membeli secara online.
  • Cuci Sebelum Pakai: Ini wajib hukumnya. Rendam pakaian dengan air panas dan detergen antiseptik untuk membunuh kuman dan bakteri dari pemilik sebelumnya.
  • Kenali Keaslian Barang: Jika Anda mengincar barang branded, pelajari ciri-ciri keasliannya (legit check) melalui internet agar tidak tertipu barang tiruan.

Fenomena thrifting adalah bukti nyata bahwa perilaku konsumen telah berevolusi. Masyarakat kini tidak lagi hanya memandang harga, tetapi juga nilai, etika, dan pengalaman di balik sebuah produk.

Dari kelima poin di atas, jelas terlihat bahwa alasan kenapa thrifting sedang di gemari merupakan kombinasi kompleks antara kebutuhan ekspresi diri, kesadaran ekologis, apresiasi terhadap kualitas, sensasi psikologis, dan kecerdasan finansial. Thrifting bukan sekadar tren sesaat yang akan hilang tahun depan; ia telah menjadi budaya tandingan yang mendefinisikan ulang bagaimana kita berpakaian.

Jadi, apakah Anda sudah siap untuk mulai berburu harta karun di tumpukan baju bekas akhir pekan ini? Ingatlah, dalam setiap potong baju bekas, terdapat cerita masa lalu yang siap untuk Anda lanjutkan kembali.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *