Getuk pisang adalah bukti nyata bahwa kesederhanaan bahan pangan lokal bisa berubah menjadi mahakarya kuliner yang mendunia. Jika biasanya kita mengenal getuk berbahan dasar singkong yang ditaburi kelapa parut, getuk yang satu ini tampil beda. Teksturnya lebih padat, warnanya merah kecokelatan yang eksotis, dan rasanya merupakan perpaduan antara manis yang kuat dengan sedikit sentuhan asam segar. Dikemas rapi menggunakan daun pisang dan dibentuk menyerupai lontong kecil, kudapan ini adalah simbol ketelatenan masyarakat dalam mengolah hasil bumi.
Di daerah asalnya, Kediri, kudapan ini bukan sekadar oleh-oleh. Ia adalah warisan leluhur yang konon sudah ada sejak zaman kerajaan. Menikmati sepotong getuk ini seolah membawa kita kembali ke masa lalu, di mana setiap gigitannya menawarkan sensasi kenyal yang bikin nagih.
1. Rahasia di Balik Pisang Raja Nangka
Tidak semua jenis pisang bisa disulap menjadi getuk yang sempurna. Rahasia utama dari kelezatan getuk pisang terletak pada pemilihan bahan bakunya, yaitu Pisang Raja Nangka. Mengapa harus jenis ini?
Pisang Raja Nangka memiliki karakteristik yang unik dibandingkan pisang lainnya. Saat mentah, ia sangat keras, namun ketika matang, ia memiliki rasa asam manis yang tajam dan aroma yang sangat harum. Yang paling penting adalah teksturnya; Pisang Raja Nangka tidak lembek atau “benyek” saat dikukus dalam waktu lama. Tekstur yang padat inilah yang membuat getuk bisa dibentuk dengan kokoh tanpa perlu banyak tambahan tepung atau pengental. Inilah yang menjaga kemurnian rasa buahnya tetap terjaga.
2. Proses Pembuatan yang Penuh Kesabaran

Sumber Foto: https://hiling.indozone.id/food/2486418028/17-ide-nama-usaha-getuk-pisang-yang-unik-dan-bikin-laper-duluan
Membuat getuk pisang adalah sebuah ujian kesabaran. Prosesnya dimulai dengan mengukus pisang raja nangka hingga benar-benar matang. Setelah itu, pisang harus dikupas dan ditumbuk selagi panas agar serat-seratnya menyatu dengan sempurna.
Biasanya, pengrajin hanya menambahkan sedikit gula pasir dan garam untuk menyeimbangkan rasa. Tidak ada pewarna buatan di sini. Warna merah kecokelatan yang cantik itu muncul secara alami dari proses oksidasi dan pemanasan gula selama dikukus. Setelah adonan halus, ia dibungkus rapat dengan daun pisang dan dikukus kembali selama beberapa jam. Proses pengukusan dua kali ini sangat krusial karena menentukan keawetan getuk secara alami tanpa bahan pengawet kimia.
3. Mengapa Warnanya Merah Kecokelatan?
Banyak orang yang baru pertama kali melihat getuk pisang mengira ada campuran cokelat atau gula merah di dalamnya. Padahal, rahasianya ada pada karamelisasi alami. Selama proses pengukusan yang lama, kandungan gula alami dalam pisang bereaksi dengan panas, menciptakan gradasi warna yang menggoda selera. Daun pisang yang digunakan sebagai pembungkus juga memberikan kontribusi aroma “sangit” yang sedap, yang menyerap masuk ke dalam pori-pori getuk.
4. Sensasi Rasa yang Unik: Manis tapi Segar
Berbeda dengan getuk singkong yang cenderung creamy karena kelapa, getuk pisang memberikan sensasi yang lebih “bersih” di lidah. Rasa manisnya dominan, tetapi diikuti dengan aftertaste asam segar yang berasal dari Pisang Raja Nangka itu sendiri. Inilah yang membuat kita tidak cepat merasa bosan atau enek saat menyantapnya. Teksturnya yang kenyal mirip dengan dodol, namun jauh lebih lembut dan tidak lengket berlebihan di gigi.
5. Jajanan Sehat nan Alami
Di era di mana banyak makanan menggunakan pemanis buatan dan pengawet, getuk pisang tampil sebagai pahlawan kesehatan. Ia kaya akan kalium, vitamin, dan serat alami dari buah pisang. Kandungan gulanya pun bisa disesuaikan, bahkan beberapa pengrajin hanya mengandalkan kemanisan alami dari buah yang sangat matang. Karena dikemas dengan daun pisang dan dikukus lama, ia memiliki daya tahan yang cukup baik (sekitar 2-3 hari di suhu ruang) tanpa bantuan zat kimia apa pun.
6. Tips Memilih dan Menikmati Getuk Pisang

Sumber Foto: https://www.snackmalang.com/resep-gethuk-pisang-malang/
Jika kamu sedang berburu kuliner ini, ada beberapa tips agar kamu mendapatkan kualitas terbaik:
- Perhatikan Pembungkusnya: Pilih yang daun pisangnya masih terlihat segar atau kering alami (bukan berminyak karena pengawet).
- Tekan Sedikit: Getuk yang bagus terasa padat dan membal saat ditekan, tidak lembek seperti bubur.
- Suhu Penyajian: Paling enak dinikmati saat sudah dingin atau suhu ruang. Namun, ada juga yang suka memasukkannya ke kulkas sebentar agar teksturnya lebih “set” dan segar saat digigit.
- Teman Minum: Padukan dengan teh tawar hangat atau kopi pahit. Rasa manis dari getuk akan melengkapi pahitnya kopi dengan sangat harmoni.
7. Filosofi dalam Selembar Daun
Bentuk getuk pisang yang menyerupai lontong kecil melambangkan kesederhanaan. Ia tidak butuh kemasan plastik mewah atau box yang mahal untuk menunjukkan kualitasnya. Cukup dibungkus daun, ia sudah mampu menarik minat orang dari aromanya saja. Ini mengajarkan kita bahwa isi yang berkualitas akan tetap bersinar meski dikemas secara sederhana.
Penutup
Meskipun kamu mungkin sedang membayangkan menikmati getuk pisang sambil memandang kabut di Dieng, jangan berkecil hati jika menemukannya di daerah lain. Kuliner ini adalah aset bangsa yang harus kita lestarikan. Menikmatinya bukan hanya soal memuaskan perut, tapi juga menghargai jerih payah para petani pisang dan pengrajin tradisional yang tetap setia pada resep warisan.
Jadi, kalau nanti kamu melihat deretan bungkusan daun pisang rapi di pusat oleh-oleh, jangan ragu untuk mengambilnya. Rasakan sendiri sensasi “emas manis” yang legit dan bikin kangen ini.Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma diĀ Royal Ole2Jangan lewatkan update royalole2 di InstagramĀ Royal Ole2


