Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

5 Dampak Nikah Muda: Mengupas Tuntas Dampak Positif dan Negatif di Balik Tren TikTok

Dampak Nikah Muda

Sedang ramai di tiktok apalagi akun https://www.tiktok.com/@azkiavee membahas tentang dampak nikah muda. Padahal nikah muda di era sekarang membutuhkan kesiapan kondisi finansial dan mental yang cukup, sedangkan anak muda sekarang lebih sulit menyiapkan kondisi mental dan finansial yang cukup untuk menikah. Sedangkan banyak anak muda yang tidak menikah namun sudah melakukan hal hal yang seharusnya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. Bagaimana anak muda mengatasi dampak nikah muda?

Banyak kreator konten, seperti akun-akun viral yang berbagi kisah rumah tangga (misalnya tipe konten seperti yang dibagikan Azkiavee), memperlihatkan dua sisi mata uang dari pernikahan di usia belia. Di satu sisi, ada romantisnya perjuangan bersama dari nol. Di sisi lain, ada tumpukan tagihan, gejolak emosi, dan tantangan mental yang jarang terekspos di kamera.

Pernikahan dini atau nikah muda bukan sekadar tentang “sah” secara agama dan hukum. Ini adalah keputusan besar yang mengubah drastis arah hidup seseorang. Bagi Gen Z dan Milenial yang sedang menimbang keputusan ini, penting untuk melihat gambaran utuhnya secara objektif.

Artikel ini akan mengupas tuntas apa saja efek negatif dan positif dari nikah muda, tidak hanya dari kacamata asmara, tetapi juga psikologis, kesehatan, dan finansial.


Dampak Nikah Muda Bab1

Mengapa Nikah Muda Menjadi Tren?

Sebelum masuk ke dampak, kita perlu memahami mengapa tren ini menjamur. Media sosial sering kali memoles nikah muda dengan filter estetis: pasangan muda yang traveling bersama, memiliki anak yang lucu, dan keterangan foto “menghalalkan pacaran”.

Narasi “menghindari zina” sering menjadi dorongan utama. Namun, realita setelah pesta pernikahan usai sering kali berbeda dari video 15 detik di TikTok. Sebuah studi menunjukkan bahwa pernikahan di bawah usia 20-25 tahun memiliki risiko perceraian yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang menikah di usia matang. Mengapa dampak nikah muda seperti itu? Jawabannya terletak pada kesiapan mental dan finansial.


Efek Negatif Nikah Muda: Tantangan yang Sering Tak Terucapkan

Banyak pasangan muda yang terkejut (“culture shock”) ketika memasuki gerbang pernikahan. Berikut adalah rincian dampak nikah muda baik negatif yang sering terjadi:

1. Ketidaksiapan Mental dan Emosional (Psychological Immaturity)

Usia remaja hingga awal 20-an adalah fase pencarian jati diri. Bagian otak yang bernama prefrontal cortex—yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan rasional dan kontrol emosi—baru matang sempurna di usia sekitar 25 tahun.

  • Ego yang Masih Tinggi: Dampak Nikah muda yang umum terjadi Pertengkaran kecil bisa membesar karena ego masing-masing pihak yang belum mau mengalah.
  • Kehilangan Masa Muda: Dampak Nikah muda selanjutnya Tanggung jawab mengurus rumah tangga membuat waktu untuk hangout, mengejar hobi, atau bereksplorasi dengan teman sebaya menjadi sangat terbatas. Hal ini bisa memicu rasa penyesalan atau Fear of Missing Out (FOMO) di kemudian hari.
  • Risiko Depresi: Tekanan untuk menjadi “istri yang baik” atau “kepala keluarga” di saat teman-teman lain masih bebas bermain bisa memicu stres berkepanjangan hingga depresi, terutama bagi perempuan.

2. Masalah Finansial (Financial Instability)

Cinta saja tidak cukup untuk membayar listrik dan beli popok. Masalah ekonomi adalah penyebab nomor satu perceraian di Indonesia.

  • Penghasilan Belum Stabil: Pasangan muda biasanya baru meniti karier atau bahkan belum bekerja. Menanggung beban hidup dua orang (atau lebih jika langsung punya anak) dengan gaji entry-level atau uang saku orang tua sangatlah berat.
  • Putus Sekolah/Kuliah: Sering kali, nikah muda memaksa salah satu atau kedua pihak untuk berhenti sekolah demi bekerja. Ini membatasi peluang karier jangka panjang dan potensi kenaikan pendapatan.

3. Risiko Kesehatan Reproduksi

Bagi perempuan, menikah dan hamil di usia yang terlalu muda (di bawah 20 tahun) membawa risiko medis yang serius.

  • Komplikasi Kehamilan: Rahim remaja belum sepenuhnya siap untuk proses kehamilan dan persalinan. Risiko kelahiran prematur, berat badan bayi rendah (BBLR), hingga pendarahan pasca-persalinan jauh lebih tinggi.
  • Stunting pada Anak: Ketidaksiapan pengetahuan tentang gizi dan pola asuh sering kali menyebabkan anak dari pasangan muda mengalami stunting (gagal tumbuh).

4. Tingginya Angka Perceraian

Data dari Pengadilan Agama di berbagai daerah sering menunjukkan bahwa mayoritas gugatan cerai datang dari pasangan usia produktif (20-30 tahun) yang menikah muda. Ketidakmampuan menyelesaikan konflik (karena poin 1) dan himpitan ekonomi (poin 2) menjadi bom waktu yang akhirnya meledak.


Efek Positif Nikah Muda: Sisi Terang yang Bisa Diraih

Meski penuh tantangan, tidak semua nikah muda berakhir buruk. Ada banyak pasangan yang berhasil membuktikan bahwa mereka bisa bahagia dan sukses. Jika dikelola dengan kedewasaan, nikah muda memiliki dampak positif tersendiri:

1. Menghindari Pergaulan Bebas (Religious & Moral aspect)

Di negara dengan budaya timur dan religius seperti Indonesia, ini adalah alasan terkuat. Menikah muda menjadi benteng untuk menjaga diri dari pergaulan bebas dan zina. Secara psikologis, hal ini memberikan ketenangan batin bagi mereka yang menjunjung tinggi nilai agama, karena bisa menyalurkan hasrat biologis secara halal dan sehat.

2. Tumbuh Dewasa Bersama (Growing Together)

Ada keindahan tersendiri dalam berjuang dari nol.

  • Mental Pejuang: Pasangan yang menikah saat sama-sama “susah” biasanya memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Mereka belajar memecahkan masalah hidup bersama-sama, yang bisa menempa mental mereka menjadi jauh lebih tangguh dibanding teman sebayanya.
  • Saling Membentuk Karakter: Karena menikah di usia yang masih malleable (mudah dibentuk), pasangan bisa saling menyesuaikan karakter dan visi hidup dengan lebih mudah dibandingkan mereka yang menikah di usia senja di mana karakter sudah sangat kaku.

3. Jarak Usia dengan Anak Tidak Terlalu Jauh

Secara fisik, orang tua muda memiliki stamina yang lebih prima untuk mengasuh anak.

  • Teman bagi Anak: Ketika anak beranjak remaja, orang tua masih berusia 30-an atau 40-an awal. Ini memudahkan komunikasi karena gap generasi tidak terlalu lebar. Orang tua bisa lebih “relate” dengan dunia anak.
  • Masa Tua Lebih Tenang: Saat orang tua memasuki masa pensiun, anak-anak biasanya sudah dewasa dan mandiri, sehingga orang tua bisa menikmati masa tua berdua tanpa beban biaya pendidikan anak lagi.

4. Motivasi Sukses yang Lebih Besar

Tanggung jawab adalah guru terbaik. Bagi pria muda, memiliki istri dan anak sering kali menjadi “pecut” motivasi terbesar untuk bekerja lebih keras. Banyak pengusaha sukses yang memulai bisnisnya karena terdesak kebutuhan keluarga di usia muda, yang memaksa mereka untuk kreatif dan pantang menyerah.


Kunci Keberhasilan: Bukan “Kapan”, Tapi “Siap”

Dari pembahasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa nikah muda itu bagaikan pedang bermata dua. Ia bisa menjadi jalan pintas menuju kedewasaan dan kebahagiaan, tapi bisa juga menjadi jurang masalah jika dilakukan tanpa ilmu.

Apa yang bisa kita pelajari dari konten kreator seperti Azkiavee dan lainnya? Bahwa pernikahan butuh Ilmu dan Persiapan.

  1. Persiapan Ilmu: Belajarlah tentang parenting, manajemen keuangan rumah tangga, dan komunikasi suami-istri sebelum akad terucap.
  2. Kemandirian: Sebisa mungkin, jangan menikah jika masih 100% bergantung pada ketiak orang tua.
  3. Komitmen: Pahami bahwa pernikahan adalah lari maraton, bukan lari sprint. Nafasnya harus panjang dan sabarnya harus seluas samudra.

Nikah muda tidak mutlak salah, dan tidak mutlak benar. Efek positif dan negatifnya sangat bergantung pada “siapa” yang menjalaninya. Jika kamu menikah muda hanya karena tren TikTok atau lari dari masalah di rumah orang tua, maka efek negatif kemungkinan besar akan mendominasi. Namun, jika kamu menikah muda dengan visi yang jelas, kesiapan mental untuk berjuang, dan komitmen agama yang kuat, maka efek positif bisa kamu raih.

Jangan jadikan pernikahan sebagai tujuan akhir, tapi jadikan ia sebagai start awal perjalanan hidup yang sesungguhnya. Bijaklah dalam mengambil keputusan, karena “sah” itu mudah, tapi “sakinah” itu butuh perjuangan darah dan air mata.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *