Email Address

info@royalole2.com

Our Location

Jl. Ir. Soekarno No.112 Kota Batu

Budaya Kopi Melbourne: Mengapa Kota Ini Punya Kopi Terbaik di Dunia

Budaya Kopi Melbourne

Jika Anda bertanya kepada seorang pelancong tentang apa yang paling mereka rindukan setelah kembali dari Australia, besar kemungkinan jawabannya bukanlah Gedung Opera Sydney atau kanguru, melainkan secangkir kopi pagi di Melbourne.

Kota ini sering kali dinobatkan sebagai ibu kota kopi dunia, mengalahkan pesaing berat seperti Roma, Wina, atau Seattle. Namun, apa sebenarnya yang membuat skena kopi di sini begitu istimewa? Apakah karena bijinya? Mesinnya? Atau orangnya?

Jawabannya adalah kombinasi dari semuanya yang membentuk budaya kopi Melbourne yang unik. Di kota ini, kopi bukan sekadar asupan kafein untuk membuat mata terbuka di pagi hari. Kopi adalah sebuah gaya hidup, sebuah ritual sosial, dan bagi banyak orang, sebuah obsesi yang serius.

Dalam artikel ini, kita akan membedah rahasia di balik reputasi emas tersebut dan mengapa Andanpara pencinta kopi wajib memasukkan Melbourne ke dalam daftar destinasi impian.


Akar Sejarah: Sentuhan Imigran Italia

Untuk memahami budaya kopi Melbourne hari ini, kita harus melihat ke belakang, tepatnya ke era pasca-Perang Dunia II di tahun 1950-an.

Sebelum masa itu, orang Australia seperti halnya Inggris adalah peminum teh. Kopi yang tersedia hanyalah kopi instan atau kopi bubuk yang direbus hingga hangus. Perubahan besar terjadi ketika gelombang imigran dari Italia dan Yunani tiba di pelabuhan Melbourne.

Mereka membawa serta mesin espresso Gaggia pertama ke benua tersebut. Kawasan seperti Lygon Street di Carlton menjadi saksi bisu lahirnya revolusi ini. Kafe-kafe bergaya Eropa mulai bermunculan, memperkenalkan espresso shot yang pekat dan cappuccino yang creamy.

Imigran Italia menanamkan standar bahwa kopi harus dibuat dengan tekanan yang tepat dan disajikan dengan keramahtamahan. Inilah fondasi kokoh yang membuat budaya kopi Melbourne memiliki jiwa. Tanpa pengaruh awal ini, mungkin Melbourne masih akan menjadi kota peminum teh hingga hari ini.


Gelombang Ketiga (Third Wave Coffee): Fokus pada Kualitas

Jika imigran Italia membawa mesinnya, generasi muda Melbourne membawa ilmunya.

Dalam dua dekade terakhir, Melbourne telah menjadi pusat dari gerakan Third Wave Coffee. Ini adalah filosofi di mana kopi diperlakukan setara dengan anggur (wine) atau keju artisan. Fokusnya bergeser dari sekadar “minum kopi” menjadi “mengapresiasi kopi”.

Dalam ekosistem budaya kopi Melbourne, para roaster (penyangrai) dan barista sangat peduli pada asal-usul biji kopi (single origin). Mereka tahu persis dari petani mana biji itu berasal, ketinggian tanamnya, hingga proses pasca-panennya.

Anda tidak akan menemukan kopi yang disangrai terlalu gelap (dark roast) hingga berminyak dan pahit di kedai kopi spesialti Melbourne. Sebaliknya, mereka cenderung menggunakan light to medium roast untuk menonjolkan karakter asli biji kopi apakah itu rasa buah-buahan (fruity), bunga (floral), atau kacang-kacangan (nutty).

Dedikasi terhadap kualitas inilah yang membuat kedai kopi internasional raksasa seperti Starbucks kesulitan menaklukkan pasar Australia. Orang Melbourne terlalu teredukasi soal rasa; mereka lebih memilih kedai lokal independen daripada franchise global yang rasanya seragam.


Barista: Sebuah Karier, Bukan Sekadar Pekerjaan Sampingan

Salah satu perbedaan mencolok antara Melbourne dan kota lain adalah status profesi barista. Di banyak tempat di dunia, menjadi barista sering dianggap sebagai pekerjaan sementara bagi mahasiswa. Namun, dalam budaya kopi Melbourne, menjadi barista adalah karier yang dihormati.

Barista di Melbourne adalah seniman dan teknisi. Mereka memahami variabel rumit seperti suhu air, tekanan tamping, rasio ekstraksi, hingga tekstur susu mikro (micro-foam). Jangan heran jika Anda melihat barista di sana menimbang bubuk kopi dengan timbangan digital setiap kali membuat pesanan. Konsistensi adalah kunci.

Kompetisi barista menjadi ajang yang bergengsi, dan banyak juara dunia barista berasal atau berlatih di Melbourne. Ketika Anda memesan kopi di sana, Anda sedang dilayani oleh seorang profesional yang bangga dengan racikannya.


Lorong-Lorong Kota (Laneways) yang Ikonik

Pengalaman menikmati kopi di Melbourne tidak bisa dipisahkan dari tata kotanya. Budaya kopi Melbourne tumbuh subur di dalam “Laneways” atau gang-gang kecil yang membelah gedung-gedung tinggi.

Tempat-tempat seperti Centre Place, Degraves Street, atau Hardware Lane dipenuhi oleh kedai kopi mungil yang mungkin hanya muat untuk 5-10 orang. Kadang, kedai kopi terbaik justru tidak memiliki papan nama besar, tersembunyi di balik pintu gudang tua, atau berada di bawah tanah.

Sensasi “menemukan” kedai kopi tersembunyi (hidden gems) ini memberikan kepuasan tersendiri. Duduk di kursi kayu kecil di gang sempit yang penuh dengan seni grafiti, ditemani suara mesin espresso dan obrolan warga lokal, adalah pengalaman autentik yang sulit diduplikasi oleh kota lain.


Menu Unik: Mengenal “The Magic”

Setiap kota kopi punya menu andalan. Jika Italia punya Espresso dan Selandia Baru mengklaim Flat White, Melbourne punya rahasia lokal bernama “The Magic”.

Jika Anda ingin terlihat seperti warga lokal yang paham budaya kopi Melbourne, cobalah pesan menu ini. Magic pada dasarnya adalah double ristretto (ekstraksi espresso yang lebih pendek dan lebih pekat) yang disajikan dalam cangkir kecil (sekitar 5oz atau 150ml), lalu dituang susu panas (steamed milk) dengan buih tipis.

Rasionya yang unik membuat rasa kopinya lebih “nendang” daripada Latte atau Flat White, tetapi tetap memiliki kelembutan susu. Menu ini jarang tertulis di papan menu, tetapi hampir setiap barista di Melbourne tahu cara membuatnya. Ini adalah kode rahasia para pecinta kopi di sana.

Selain Magic, tentu saja Flat White adalah menu wajib. Meskipun perdebatan tentang siapa penemu aslinya (Australia atau Selandia Baru) tidak pernah usai, Melbourne telah menyempurnakan seni membuat Flat White dengan tekstur susu yang sehalus sutra (silky).


Kopi dan Brunch: Pasangan Tak Terpisahkan

Berbicara tentang budaya kopi Melbourne, kita tidak bisa melepaskannya dari budaya brunch (sarapan yang digabung makan siang).

Di akhir pekan, antrean panjang di depan kafe populer adalah pemandangan biasa. Orang Melbourne rela menunggu 30 menit demi mendapatkan Smashed Avocado on Toast dan secangkir Filter Coffee.

Standar makanan di kafe-kafe Melbourne sangat tinggi. Mereka menggunakan bahan-bahan lokal, segar, dan musiman. Kopi tidak hanya berdiri sendiri, melainkan menjadi pendamping yang harmonis bagi hidangan kreatif para koki. Sinergi antara dapur dan mesin kopi inilah yang membuat skena kuliner Melbourne begitu hidup.


Tips Menikmati Kopi di Melbourne untuk Pemula

Bagi Anda yang berencana mengunjungi Melbourne, berikut adalah beberapa tips agar tidak “kaget” dengan etiket kopi di sana:

  1. Jadilah Spesifik: Jangan hanya memesan “kopi”. Barista akan bingung. Tentukan apakah Anda mau Latte, Cappuccino, Flat White, Long Black, atau Magic. Tentukan juga jenis susunya (Full cream, Skim, Oat, Soy, atau Almond).
  2. Bawa KeepCup: Orang Melbourne sangat peduli lingkungan. Membawa gelas pakai ulang (reusable cup) sangat dihargai, bahkan sering kali Anda akan mendapatkan potongan harga.
  3. Jangan Terburu-buru: Minum kopi di Melbourne adalah momen untuk dinikmati (savoring the moment). Jangan meminumnya sambil berlari mengejar trem jika Anda bisa duduk sebentar.
  4. Eksplorasi Rasa: Cobalah Batch Brew atau Pour Over (V60). Ini adalah cara terbaik untuk mencicipi kualitas biji kopi tanpa gangguan rasa susu.

Pada akhirnya, budaya kopi Melbourne bukan hanya tentang siapa yang memiliki mesin paling mahal atau biji kopi paling langka. Ini adalah tentang komunitas.

Ini adalah tentang bagaimana seorang barista menyapa pelanggannya dengan nama, bagaimana orang asing bisa mengobrol di meja komunal (shared table), dan bagaimana sebuah kota menghargai proses pembuatan sesuatu dari hulu ke hilir.

Melbourne telah berhasil mengubah komoditas sederhana menjadi sebuah bentuk seni yang dapat diakses oleh semua orang. Kopi di sini adalah bahasa universal yang menyatukan mahasiswa, pekerja kantoran, seniman, hingga turis.

Jadi, apakah Melbourne punya kopi terbaik di dunia? Rasa memang subjektif. Namun, jika ukurannya adalah gairah, dedikasi, dan atmosfer yang dibangun di sekeliling cangkir tersebut, sulit untuk membantah bahwa Melbourne adalah rajanya.

Siapkan paspor dan indra pengecap Anda, karena satu cangkir di Melbourne mungkin akan mengubah standar kopi Anda selamanya.

Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.

Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2

Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *