Pernahkah Anda mengakhiri hari kerja dengan perasaan sangat kelelahan, tetapi ketika melihat kembali daftar tugas (to-do list), Anda menyadari bahwa tidak ada satu pun pekerjaan penting yang benar-benar selesai? Berhenti Melakukan 3 Kebiasaan Ini Jika Kamu Ingin Lebih Produktif Hari Ini.
Di era modern yang serba terhubung ini terutama di tahun 2026 di mana arus informasi bergerak lebih cepat dari sebelumnya menjaga fokus ibarat mencoba meminum air dari selang pemadam kebakaran. Kita sering kali bangun di pagi hari dengan niat yang kuat. Kita membuat daftar tugas yang rapi, menyeduh kopi, dan duduk di depan layar dengan penuh determinasi. Namun, beberapa jam kemudian, kita mendapati diri kita tenggelam dalam lautan email, grup obrolan pekerjaan, dan tugas-tugas kecil yang seolah tidak ada habisnya.
Ketika berbicara tentang produktivitas, masyarakat sering kali terjebak pada pola pikir “penambahan”. Kita selalu mencari tahu aplikasi produktivitas apa yang baru untuk diunduh, metode manajemen waktu apa yang harus ditambahkan ke rutinitas pagi, atau suplemen apa yang bisa meningkatkan konsentrasi. Padahal, produktivitas sejati jarang sekali berasal dari menambahkan lebih banyak hal ke dalam piring Anda.
Produktivitas sejati justru berasal dari proses “pengurangan”. Anda tidak akan pernah bisa berlari cepat jika Anda masih mengikat beban berat di pergelangan kaki Anda. Sebelum Anda mencoba mengadopsi rutinitas bangun jam 5 pagi atau menggunakan perangkat lunak manajemen proyek yang rumit, langkah pertama yang paling rasional dan berdampak besar adalah eliminasi. Anda harus Berhenti Melakukan 3 Kebiasaan Ini agar energi, waktu, dan kejernihan mental Anda bisa kembali optimal.
Mari kita bedah secara mendalam tiga kebiasaan beracun yang secara diam-diam membunuh produktivitas Anda setiap hari, alasan psikologis mengapa kita terus melakukannya, dan cara-cara taktis untuk menghentikannya mulai hari ini.
1. Multitasking Ilusi: Mitos Mengerjakan Semuanya Sekaligus

Kebiasaan pertama yang harus segera Anda tinggalkan adalah kebanggaan semu terhadap multitasking. Di banyak budaya kerja, kemampuan untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu sering kali diagungkan sebagai tanda kompetensi. Anda mungkin merasa hebat saat bisa mengetik laporan, sambil mendengarkan rapat virtual (Zoom), dan sesekali membalas pesan WhatsApp dari klien.
Namun, mari kita berhadapan dengan fakta neurologis: Otak manusia tidak dirancang untuk memproses dua tugas kognitif tingkat tinggi secara bersamaan.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Dalam Otak Anda?
Ketika Anda berpikir bahwa Anda sedang melakukan multitasking, apa yang sebenarnya Anda lakukan adalah context-switching (berpindah konteks). Otak Anda mematikan fokus dari tugas A, lalu menghidupkan fokus untuk tugas B, dan kembali lagi ke tugas A dalam hitungan detik.
Proses perpindahan ini bukannya tanpa biaya. Ada fenomena yang dalam psikologi kognitif disebut sebagai attention residue (residu perhatian). Saat Anda beralih dari menyusun laporan keuangan ke membaca email masuk, sebagian dari perhatian Anda masih tertinggal pada laporan tersebut. Akibatnya, saat Anda membalas email, Anda tidak melakukannya dengan kapasitas mental 100%. Lebih buruk lagi, penelitian menunjukkan bahwa rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 23 menit bagi otak untuk benar-benar kembali fokus sepenuhnya pada tugas awal setelah terdistraksi.
Inilah sebabnya mengapa multitasking membuat Anda merasa sangat sibuk dan lelah, tetapi hasil kerja Anda penuh dengan kesalahan, dangkal, dan memakan waktu jauh lebih lama daripada yang seharusnya.
Cara Memutus Kebiasaan Ini: Single-Tasking dan Time Blocking
Jika Anda ingin melihat lonjakan produktivitas, Anda harus mulai memeluk konsep single-tasking.
- Praktikkan Time Blocking: Alokasikan blok waktu khusus di kalender Anda untuk satu tugas spesifik. Misalnya, pukul 09.00 – 10.30 murni untuk menyusun proposal. Selama blok waktu ini, tutup semua tab peramban (browser) yang tidak relevan.
- Gunakan Teknik Pomodoro: Jika fokus selama 90 menit terlalu berat, gunakan interval. Bekerjalah dengan fokus penuh selama 25 atau 50 menit, lalu ambil jeda istirahat 5 hingga 10 menit. Teknik ini melatih “otot” rentang perhatian Anda secara bertahap tanpa membuat otak mengalami kelelahan (burnout).
2. Menjadi Budak Notifikasi: Bekerja Secara Reaktif, Bukan Proaktif

Ponsel dan laptop kita adalah alat yang luar biasa, namun mereka juga merupakan mesin interupsi paling efisien yang pernah diciptakan manusia. Kebiasaan kedua yang menghancurkan hari Anda adalah membiarkan diri Anda selalu berada dalam mode “siaga”, merespons setiap bunyi ping, getaran, atau pop-up layar yang muncul.
Banyak profesional menghabiskan hari-hari mereka secara reaktif. Mereka membiarkan inbox email dan pesan instan mendikte apa yang harus mereka kerjakan. Saat Anda bekerja seperti ini, Anda pada dasarnya memberikan kendali atas waktu dan prioritas Anda kepada orang lain.
Lingkaran Setan Dopamin dan “Deep Work”
Mengapa sangat sulit untuk mengabaikan bunyi notifikasi? Jawabannya ada pada neurokimia kita. Setiap kali Anda mendengar bunyi pesan masuk, otak melepaskan sedikit dopamin—hormon antisipasi dan penghargaan. Otak Anda penasaran, “Apakah ini pesan penting? Apakah ini kabar baik?”. Memeriksa ponsel memberikan kepuasan instan.
Namun, bekerja dalam keadaan terus-menerus terdistraksi membuat Anda mustahil untuk mencapai fase Deep Work (Kerja Mendalam). Deep Work adalah kemampuan untuk fokus tanpa gangguan pada tugas yang menuntut kognitif, yang mendorong kemampuan Anda hingga batas maksimal. Di sinilah nilai nyata diciptakan. Sebaliknya, terus-menerus merespons notifikasi hanya membuat Anda terjebak dalam Shallow Work (Kerja Dangkal) tugas-tugas administratif bernilai rendah yang bisa dilakukan oleh siapa saja, atau bahkan diotomatisasi.
Cara Memutus Kebiasaan Ini: Komunikasi Asinkron dan Batasan Tegas
Anda harus menyadari bahwa Berhenti Melakukan 3 Kebiasaan Ini membutuhkan sedikit keberanian untuk menetapkan batasan dengan lingkungan kerja Anda.
- Matikan Notifikasi Dorong (Push Notifications): Langkah paling revolusioner yang bisa Anda lakukan hari ini adalah masuk ke pengaturan ponsel dan laptop Anda, lalu matikan semua notifikasi kecuali panggilan telepon darurat.
- Jadwalkan Waktu Memeriksa Email/Pesan: Jangan biarkan inbox terbuka sepanjang hari. Tentukan waktu spesifik untuk memproses komunikasi. Misalnya, periksa email dan balas pesan kerja hanya pada pukul 08.30, 12.00, dan 16.00.
- Edukasi Lingkungan Anda: Beri tahu tim atau atasan Anda bahwa jika ada hal yang benar-benar darurat (life or death situation), mereka harus menelepon, bukan mengirim pesan teks. Anda akan terkejut menyadari betapa sedikitnya pesan yang sebenarnya bersifat “darurat”.
3. Menunda Tugas Tersulit: Jebakan “Produktivitas Palsu”

Kita sampai pada kebiasaan ketiga, yang mungkin merupakan bentuk sabotase diri paling halus dan sering tidak disadari: Procrastination (penundaan) yang berkedok produktivitas.
Bayangkan skenario ini: Anda memiliki satu proyek besar yang tenggat waktunya semakin dekat. Proyek ini sangat penting, tetapi juga rumit dan mengintimidasi. Alih-alih langsung mengerjakannya di pagi hari, Anda memutuskan untuk “pemanasan” terlebih dahulu. Anda mulai merapikan meja kerja, membalas puluhan email yang sebenarnya tidak mendesak, menyortir dokumen, atau bahkan mengatur ulang warna label pada aplikasi manajemen tugas Anda.
Anda merasa sangat sibuk dan produktif. Namun kenyataannya, Anda sedang melakukan penghindaran (avoidance). Anda melakukan tugas-tugas mudah (low-hanging fruit) untuk mendapatkan ilusi pencapaian, sementara gajah besar di dalam ruangan (proyek utama Anda) sama sekali tidak tersentuh.
Kelelahan Keputusan (Decision Fatigue) dan Pengurasan Energi
Mengapa menunda tugas tersulit ke sore atau malam hari adalah ide yang buruk? Ini berkaitan dengan konsep Ego Depletion atau kelelahan kemauan (willpower).
Kapasitas mental, fokus, dan disiplin diri Anda adalah sumber daya yang terbatas. Seperti baterai ponsel, energinya paling penuh di pagi hari setelah Anda bangun tidur, dan akan terus terkuras seiring berjalannya hari seiring dengan setiap keputusan yang Anda buat. Jika Anda menyimpan tugas yang paling menuntut secara kognitif untuk dikerjakan pada pukul 3 sore, baterai mental Anda sudah berada di zona merah. Akibatnya, Anda akan merasa muak, kewalahan, dan pada akhirnya berkata, “Aku akan mengerjakannya besok pagi saja.” Dan siklus ini pun berulang.
Cara Memutus Kebiasaan Ini: Prinsip “Eat the Frog”
Untuk mengatasi hal ini, Anda harus mengubah urutan kerja Anda secara drastis menggunakan filosofi legendaris dari Mark Twain: “Jika tugas Anda adalah memakan seekor katak hidup, lakukanlah itu pertama kali di pagi hari. Dan tidak akan ada hal yang lebih buruk yang terjadi pada Anda sepanjang hari itu.”
“Katak” di sini adalah metafora untuk tugas Anda yang paling besar, paling penting, dan paling sering Anda hindari.
- Identifikasi 1 Tugas Utama (The One Thing): Setiap malam sebelum tidur, tentukan satu tugas paling berdampak tinggi yang harus Anda selesaikan esok hari. Jika hari itu Anda hanya bisa menyelesaikan satu hal tersebut, Anda tetap akan menganggap hari itu sukses.
- Kerjakan Sebelum Hal Lain: Di pagi hari, sebelum Anda membuka email, sebelum Anda melihat media sosial, dan sebelum Anda membiarkan orang lain meminta waktu Anda, kerjakan tugas tersebut. Sentuhlah “katak” itu terlebih dahulu.
- Pecah Menjadi Bagian Kecil: Jika tugas itu terlalu besar (misalnya: “Menulis Buku”), wajar jika otak Anda menolaknya. Pecah tugas itu menjadi tindakan terkecil yang bisa dilakukan. Ubah menjadi: “Menulis kerangka untuk Bab 1 selama 30 menit.” Hambatan untuk memulainya akan menjadi jauh lebih rendah.
Menjadi produktif di tahun 2026 bukanlah tentang bekerja lebih lama hingga mengorbankan waktu tidur dan kesehatan mental Anda. Produktivitas adalah tentang bekerja dengan niat (intention) dan melindungi aset Anda yang paling berharga: perhatian Anda.
Untuk mendapatkan kembali kendali atas hari-hari Anda, Anda tidak selalu membutuhkan sistem yang baru. Mulailah dengan komitmen untuk Berhenti Melakukan 3 Kebiasaan Ini. Berhentilah mencoba membelah fokus Anda melalui multitasking, berhentilah menjadi reaktif terhadap setiap bunyi notifikasi yang muncul, dan berhentilah bersembunyi di balik tugas-tugas kecil yang mudah.
Perubahan tidak akan terjadi dalam semalam. Mengubah kebiasaan yang sudah mendarah daging membutuhkan kesabaran. Jika mencoba menghentikan ketiganya sekaligus terasa terlalu berat, pilihlah satu saja untuk diperbaiki minggu ini. Mungkin Anda bisa mulai dengan mematikan notifikasi media sosial di ponsel kerja Anda esok hari.
Ketika Anda membersihkan hari Anda dari kebiasaan-kebiasaan yang menguras energi ini, Anda akan terkejut melihat berapa banyak waktu dan kejernihan pikiran yang tiba-tiba Anda miliki. Anda tidak hanya akan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, tetapi Anda akan menyelesaikannya dengan kualitas yang lebih baik dan stres yang jauh lebih sedikit.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


