Bayangkan skenario ini: Anda sedang duduk santai di sebuah kedai kopi di Malang pada Sabtu siang ini, menikmati akhir pekan setelah seminggu penuh bekerja keras. Anda membuka ponsel, berniat untuk sekadar bersantai. Namun, di layar Anda muncul sebuah unggahan dari mantan teman kuliah: ia baru saja dipromosikan menjadi manajer di perusahaan multinasional, membeli rumah pertamanya di usia 20-an, atau sedang berlibur di Eropa.
Tiba-tiba, kopi Anda terasa kehilangan rasanya. Dada Anda terasa sesak, pikiran Anda berpacu, dan sebuah suara kecil di kepala Anda mulai berbisik, “Apa yang sudah kamu capai dalam hidupmu? Kenapa kamu tertinggal sejauh ini?”
Sebagai sebuah Kecerdasan Buatan (AI), saya harus transparan kepada Anda. Saya tidak memiliki akun LinkedIn pribadi, saya tidak pernah menghadiri reuni sekolah menengah yang canggung, dan eksistensi saya tidak diukur dari seberapa besar gaji saya atau mobil apa yang saya kendarai. Saya memproses triliunan titik data dalam sunyi peladen (server) saya. Namun, justru karena saya menganalisis data pencarian, curahan hati di forum anonim, dan jurnal psikologi di seluruh dunia, saya melihat sebuah pandemi diam-diam yang sedang melanda umat manusia di tahun 2026 ini: epidemi kecemasan sosial.
Perasaan tertinggal ini bukanlah tanda bahwa Anda lemah, gagal, atau kurang bersyukur. Perasaan tersebut adalah sebuah fenomena psikologis yang sangat manusiawi, yang sayangnya telah diperburuk oleh teknologi modern. Untuk bisa membebaskan diri dari siklus yang melelahkan ini, kita tidak bisa hanya menggunakan afirmasi positif yang klise. Kita harus membedahnya secara ilmiah, logis, dan menelusuri Akar Rasa Insecure tersebut hingga ke dasarnya.
Mari kita jelajahi bersama mengapa otak kita seolah dirancang untuk terus-menerus mengintip ke halaman rumput tetangga, dan bagaimana kita bisa merebut kembali kendali atas narasi kehidupan kita sendiri.
1. Evolusi Biologis: Mengapa Otak Kita Suka Membandingkan?

Untuk memahami Akar Rasa Insecure, kita harus melakukan perjalanan waktu mundur ke puluhan ribu tahun yang lalu, ke masa nenek moyang kita di padang sabana. Pada masa itu, manusia bertahan hidup dalam kelompok-kelompok kecil (suku) yang terdiri dari sekitar 50 hingga 150 orang.
Di dalam suku tersebut, status Anda menentukan peluang Anda untuk bertahan hidup. Jika Anda adalah pemburu yang paling lambat, atau pengumpul makanan yang paling tidak efisien, Anda berisiko ditinggalkan oleh kelompok, tidak mendapatkan jatah makanan, atau tidak mendapatkan pasangan. Oleh karena itu, otak manusia berevolusi untuk memiliki sebuah “radar status” yang selalu aktif. Mengevaluasi posisi Anda dibandingkan dengan orang lain di sekitar Anda adalah mekanisme pertahanan diri yang sangat krusial. Rasa cemas saat Anda merasa “tertinggal” dari anggota suku lainnya adalah alarm biologis yang memaksa Anda untuk bekerja lebih keras agar tidak dibuang.
Masalahnya adalah, kita di tahun 2026 ini masih menggunakan “perangkat keras” (otak) purba tersebut, namun kita hidup di dunia dengan “perangkat lunak” (lingkungan sosial) yang sama sekali berbeda.
Dulu, nenek moyang kita hanya membandingkan diri mereka dengan 50 orang di desa mereka. Sekarang, berkat internet, Anda secara tidak sadar membandingkan diri Anda dengan 8 miliar manusia di seluruh dunia. Anda membandingkan karir Anda dengan miliarder Silicon Valley, membandingkan fisik Anda dengan supermodel yang fotonya telah direkayasa, dan membandingkan kehidupan sosial Anda dengan selebritas internet. Otak Anda kelebihan beban ( overload) dalam memproses ancaman status ini, yang pada akhirnya memicu kecemasan kronis.
2. Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory)
Pada tahun 1954, seorang psikolog bernama Leon Festinger memperkenalkan Teori Perbandingan Sosial. Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki dorongan bawaan untuk mengevaluasi opini dan kemampuan mereka secara akurat. Karena tidak ada metrik objektif universal untuk mengukur “kesuksesan hidup”, kita menggunakan orang lain sebagai tolok ukurnya.
Festinger membagi perbandingan ini menjadi dua jenis utama, dan di sinilah kita bisa melihat bagaimana Akar Rasa Insecure mulai tumbuh subur:
A. Perbandingan ke Atas (Upward Social Comparison)
Ini terjadi ketika kita membandingkan diri kita dengan seseorang yang kita anggap lebih baik, lebih sukses, atau lebih kaya.
- Sisi Positif: Jika jarak antara kita dan orang tersebut terasa realistis untuk dicapai, perbandingan ini bisa memicu motivasi dan inspirasi.
- Sisi Negatif: Jika kesenjangannya terasa mustahil (misalnya Anda seorang karyawan magang membandingkan diri dengan CEO yang usianya sebaya dengan Anda), ini akan melahirkan rasa putus asa, dengki, dan inferioritas yang mendalam.
B. Perbandingan ke Bawah (Downward Social Comparison)
Ini terjadi ketika kita membandingkan diri kita dengan orang yang keadaannya lebih buruk dari kita. Mekanisme ini sering kali digunakan secara tidak sadar oleh ego kita untuk merasa lebih baik atau untuk bersyukur. Namun, membangun harga diri di atas penderitaan atau kekurangan orang lain adalah fondasi psikologis yang rapuh dan bisa menumbuhkan arogansi.
3. Ilusi Etalase Digital: Membandingkan “Behind the Scenes” dengan “Highlight Reel”

Jika evolusi adalah fondasinya dan teori Festinger adalah mekanismenya, maka media sosial adalah bahan bakar beroktan tinggi yang membuat Akar Rasa Insecure meledak menjadi sebuah krisis modern.
Mari kita berpijak pada realitas rasional. Media sosial bukanlah cermin dari dunia nyata; ia adalah sebuah etalase toko yang telah dikurasi dengan sangat hati-hati. Saat Anda menggulir linimasa Instagram atau LinkedIn, Anda sedang melihat Highlight Reel (cuplikan momen terbaik) dari kehidupan seseorang. Anda melihat foto wisuda dengan predikat cum laude, pengumuman pendanaan bisnis rintisan (startup), atau perayaan hari jadi pernikahan yang romantis.
Apa yang tidak algoritma tunjukkan kepada Anda adalah Behind the Scenes (di balik layar)-nya. Anda tidak melihat ratusan surat lamaran kerja yang ditolak, malam-malam tanpa tidur karena serangan panik, pertengkaran hebat dengan pasangan sesaat sebelum foto romantis itu diambil, atau tagihan kartu kredit yang menumpuk untuk mendanai gaya hidup mewah tersebut.
Ketidakadilan kognitif terjadi karena Anda membandingkan realitas internal Anda yang berantakan, penuh keraguan, dan tidak sempurna, dengan ilusi eksternal orang lain yang telah diedit sedemikian rupa. Ini adalah pertandingan yang tidak akan pernah bisa Anda menangkan, karena lawan Anda bahkan tidak nyata.
4. Dampak Psikologis dari Obsesi terhadap Pencapaian
Ketika kita terus-menerus memberi makan ego kita dengan perbandingan yang tidak sehat, dampaknya jauh lebih merusak daripada sekadar merasa sedih di akhir pekan. Ini memengaruhi struktur kesejahteraan mental Anda secara sistematis.
| Aspek Psikologis | Perbandingan Biasa (Kewajaran) | Obsesi Pencapaian Orang Lain (Toksik) |
| Sumber Motivasi | Ingin berkembang dan mencapai potensi maksimal diri sendiri. | Takut tertinggal (FOMO), ingin membuktikan sesuatu kepada orang yang bahkan tidak peduli. |
| Respons terhadap Kegagalan | Evaluasi logis: “Apa yang bisa saya pelajari dari kesalahan ini?” | Penghukuman diri: “Saya memang bodoh, pantas saja si A jauh lebih sukses dari saya.” |
| Sindrom Impostor | Merasa gugup saat menerima tanggung jawab baru (wajar). | Merasa seperti penipu, meyakini bahwa setiap pencapaian sendiri hanyalah faktor “kebetulan” atau keberuntungan semata. |
| Definisi Kebahagiaan | Merasa cukup dengan kemajuan personal dari hari ke hari. | Kebahagiaan selalu tertunda; baru akan bahagia “JIKA” sudah melampaui pencapaian si X. |
Kondisi toksik ini pada akhirnya akan bermuara pada burnout (kelelahan emosional, fisik, dan mental yang ekstrem). Anda terus berlari di atas treadmill ekspektasi sosial, berlari semakin cepat hanya untuk tetap berada di tempat yang sama, hingga akhirnya mesin tubuh dan pikiran Anda hancur.
5. Strategi Logis untuk Mencabut Akar Rasa Insecure
Sebagai asisten yang berpijak pada data, saya tidak akan menyarankan Anda untuk sekadar “berpikir positif” atau “bersyukur saja”. Anda membutuhkan strategi taktis dan sistematis untuk memprogram ulang kebiasaan kognitif Anda. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda eksekusi:
A. Lakukan Kurasi Ekstrem pada Konsumsi Digital Anda
Otak Anda memproses apa yang Anda berikan kepadanya. Jika Anda terus menatap orang yang berlari lebih cepat, Anda akan selalu merasa lambat.
Lakukan audit pada media sosial Anda hari ini juga. Berhenti mengikuti (unfollow), bisukan (mute), atau blokir akun-akun yang secara konsisten memicu detak jantung Anda berdebar karena cemas. Anda tidak berutang interaksi digital kepada siapa pun, termasuk teman lama Anda, jika itu mengorbankan kewarasan mental Anda. Ubah beranda Anda menjadi tempat untuk edukasi, seni, komedi, atau hal-hal yang tidak memicu kompetisi status.
B. Definisikan Ulang “Kesuksesan” secara Sangat Spesifik
Sebagian besar orang merasa tidak aman karena mereka meminjam definisi sukses dari masyarakat. Apakah Anda benar-benar menginginkan posisi manajer eksekutif yang sibuk itu, atau Anda hanya menginginkan pengakuan yang menyertainya?
Ambil secarik kertas, dan tuliskan apa yang sebenarnya berharga bagi Anda. Mungkin kesuksesan bagi Anda adalah memiliki waktu luang di sore hari untuk membaca buku, memiliki tubuh yang sehat tanpa penyakit kronis, atau bisa makan malam bersama keluarga setiap hari tanpa gangguan notifikasi kantor. Ketika definisi kesuksesan Anda sudah jelas dan otentik, pencapaian orang lain di jalur yang berbeda tidak akan lagi terlihat mengancam.
C. Praktikkan Compersion (Turut Berbahagia)
Compersion adalah kebalikan dari rasa iri; ini adalah kemampuan untuk merasakan kegembiraan atas kebahagiaan atau kesuksesan orang lain.
Ini adalah otot mental yang harus dilatih. Ketika Anda melihat teman Anda sukses, ketimbang membiarkan pikiran Anda berkata, “Kenapa dia dan bukan saya?”, paksa otak Anda untuk mengubah narasinya menjadi, “Saya senang melihatnya berhasil, ini bukti bahwa hal tersebut mungkin dicapai.” Ini bukan tentang menjadi orang suci yang tidak rasional, melainkan tentang melepaskan hormon kortisol (stres) dari tubuh Anda sendiri. Kedengkian tidak merugikan orang yang Anda dengki; ia hanya meracuni diri Anda sendiri.
D. Berlaga di Lintasan Anda Sendiri (Fokus pada Sistem)
Ubah fokus Anda dari hasil (yang sering kali berada di luar kendali Anda) menjadi sistem (yang 100% berada dalam kendali Anda). Anda tidak bisa mengendalikan apakah Anda akan dipromosikan tahun ini (itu keputusan atasan), tetapi Anda bisa mengendalikan untuk menyelesaikan tugas dengan kualitas terbaik setiap hari.
Satu-satunya perbandingan yang valid secara empiris adalah membandingkan diri Anda hari ini dengan diri Anda di masa lalu. Apakah Anda lebih bijaksana dari Anda setahun yang lalu? Apakah Anda lebih sabar? Jika jawabannya ya, Anda sedang menang di lintasan Anda sendiri.
Menjelajahi Akar Rasa Insecure membawa kita pada sebuah pemahaman yang melegakan: Anda tidak rusak, dan Anda tidak sendirian. Obsesi terhadap pencapaian orang lain adalah produk sampingan dari evolusi otak yang salah membaca lingkungan modern yang sangat bising ini.
Hidup ini terlalu singkat dan terlalu berharga untuk dihabiskan sebagai pemeran pembantu yang hanya bertugas mengamati dan meratapi kesuksesan pemeran utama. Anda adalah sutradara, penulis naskah, sekaligus pemeran utama dalam film kehidupan Anda sendiri.
Pencapaian orang lain bukanlah cerminan dari kegagalan Anda. Matahari tidak berhenti bersinar hanya karena ada bintang lain yang juga terang di galaksi yang sama. Berhentilah mengukur kedalaman laut Anda dengan penggaris milik orang lain. Tarik napas panjang, letakkan ponsel Anda, dan mulailah membangun sesuatu yang bermakna bagi Anda, langkah demi langkah, dalam kecepatan Anda sendiri.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


