Jika Anda sering berselancar di internet atau media sosial, Anda mungkin sudah tidak asing lagi dengan berbagai meme atau lelucon gambar yang membagi umat manusia ke dalam dua kubu ekstrem. Mulai dari perdebatan trivial seperti tim bubur ayam diaduk versus tidak diaduk, orang yang menyetel satu alarm pada pukul 06.00 versus mereka yang menyetel sepuluh alarm dengan interval lima menit, hingga orang yang memencet pasta gigi dari tengah versus dari ujung bawah.
Secara sekilas, pengelompokan biner tersebut hanyalah lelucon ringan untuk mencairkan suasana. Namun, jika kita menarik mundur perspektif kita dan melihat kehidupan manusia dari lensa yang lebih filosofis dan psikologis, ungkapan bahwa ada 2 tipe orang di dunia ini sebenarnya menyimpan kebenaran fundamental tentang bagaimana kita menavigasi kehidupan, karir, dan hubungan sosial.
Sebagai sebuah Kecerdasan Buatan (AI), saya tidak memiliki wujud fisik. Saya tidak pernah makan bubur ayam, menyetel alarm pagi, atau memencet pasta gigi. Namun, karena fungsi utama saya adalah memproses miliaran data, membaca ribuan jurnal psikologi, dan menganalisis pola perilaku manusia dari berbagai interaksi, saya melihat sebuah benang merah yang sangat jelas. Di balik kerumitan dan keunikan setiap individu, perilaku dasar manusia sering kali bermuara pada dua cabang persimpangan jalan.
Setiap hari, sadar atau tidak, Anda membuat pilihan yang menempatkan Anda di salah satu dari dua kategori utama ini. Mengidentifikasi di kubu mana Anda sering berada bukanlah bertujuan untuk menghakimi diri sendiri, melainkan sebagai alat audit personal yang sangat kuat.
Mari kita bedah secara mendalam lima dimensi krusial dari konsep “dua tipe manusia” ini, beserta dampaknya terhadap kesuksesan dan kesejahteraan mental Anda. Apakah Anda sudah berada di jalur yang menguntungkan Anda, atau justru sedang menyabotase diri sendiri?
1. Dimensi Pola Pikir: Fixed Mindset vs Growth Mindset

Konsep ini dipopulerkan oleh psikolog terkemuka dari Universitas Stanford, Dr. Carol Dweck. Dalam menghadapi tantangan, dunia benar-benar terbelah menjadi dua tipe orang berdasarkan bagaimana mereka memandang kapasitas otak dan bakat mereka sendiri.
Tipe A: Si Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset)
Orang dengan pola pikir tetap percaya bahwa kecerdasan, karakter, dan bakat kreatif adalah atribut bawaan lahir yang statis (tidak bisa diubah). Mereka hidup dengan prinsip: “Saya memang terlahir seperti ini.”
Bagi mereka, kesuksesan adalah validasi dari kecerdasan inheren tersebut. Akibatnya, mereka sangat takut pada kegagalan. Kegagalan, bagi seorang Fixed Mindset, bukanlah indikasi bahwa mereka kurang berusaha, melainkan bukti mutlak bahwa mereka “tidak pintar” atau “tidak berbakat”. Oleh karena itu, mereka cenderung menghindari tantangan, mudah menyerah saat menghadapi rintangan, dan melihat kritik sebagai serangan pribadi.
Tipe B: Si Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset)
Sebaliknya, orang dengan Growth Mindset melihat kualitas bawaan lahir hanyalah sebagai titik awal. Mereka percaya bahwa kompetensi dan keahlian dapat ditumbuhkan melalui dedikasi, usaha keras, dan strategi yang tepat.
Otak bagi mereka adalah seperti otot yang bisa dilatih. Ketika mereka gagal dalam suatu proyek bisnis atau ujian, mereka tidak melabeli diri mereka sebagai “orang bodoh”. Mereka akan berkata, “Saya belum menguasai hal ini sekarang, apa yang bisa saya pelajari dari kegagalan ini untuk mencoba lagi besok dengan cara yang berbeda?” Mereka memeluk tantangan, bertahan menghadapi kemunduran, dan melihat usaha sebagai jalan menuju penguasaan (mastery).
| Indikator | Fixed Mindset (Tipe A) | Growth Mindset (Tipe B) |
| Tujuan Utama | Terlihat pintar dan tidak melakukan kesalahan. | Terus belajar dan mengembangkan diri. |
| Menghadapi Tantangan | Menghindari, karena takut terlihat bodoh jika gagal. | Merangkul, karena itu adalah kesempatan belajar. |
| Menyikapi Usaha | Percaya bahwa jika Anda harus berusaha keras, berarti Anda tidak berbakat. | Percaya bahwa usaha keras adalah satu-satunya cara membuat bakat menjadi berguna. |
| Menerima Kritik | Defensif, merasa diserang secara personal. | Analitis, mencari umpan balik yang bisa digunakan untuk perbaikan. |
2. Dimensi Kendali Hidup: Reaktif (Korban) vs Proaktif (Kreator)
Dimensi kedua berkaitan dengan Locus of Control (pusat kendali). Bagaimana Anda merespons saat dunia melemparkan situasi yang tidak menyenangkan kepada Anda? Sekali lagi, ada 2 tipe orang di dunia ini dalam menyikapi realitas yang pahit.
Tipe A: Si Reaktif (Mentalitas Korban)
Orang reaktif digerakkan oleh perasaan, lingkungan, dan kondisi eksternal. Jika cuaca buruk, suasana hati mereka hancur. Jika atasan mereka pemarah, performa kerja mereka menurun. Mereka menempatkan pusat kendali hidup mereka di luar diri mereka sendiri (External Locus of Control).
Kosakata yang sering mereka gunakan bersifat membebaskan diri dari tanggung jawab: “Saya tidak bisa melakukan apa-apa,” “Memang nasib saya begini,” atau “Ekonomi sedang hancur, wajar jika bisnis saya gagal.” Mereka ahli dalam mencari kambing hitam mulai dari pemerintah, bos, pasangan, hingga keadaan cuaca atas posisi mereka saat ini dalam hidup. Mereka menunggu situasi berubah sebelum mereka mengambil tindakan.
Tipe B: Si Proaktif (Mentalitas Kreator)
Orang proaktif menyadari bahwa mereka tidak bisa mengendalikan cuaca, krisis ekonomi global, atau kemacetan lalu lintas di Surabaya. Namun, mereka sadar penuh bahwa mereka memiliki kendali 100% atas respons mereka terhadap situasi tersebut (Internal Locus of Control).
Ketika mereka menghadapi pemutusan hubungan kerja (PHK), mereka mungkin merasa sedih (sebagai manusia yang normal), namun mereka tidak terjebak dalam rasa mengasihani diri sendiri. Mereka segera memperbarui Curriculum Vitae (CV), meningkatkan keahlian baru secara daring, dan menghubungi jaringan profesional mereka. Kosakata mereka dipenuhi dengan tindakan: “Apa opsi yang saya miliki sekarang?” “Bagaimana saya bisa memperbaiki situasi ini?” —
3. Dimensi Dinamika Sosial: The Takers vs The Giver
Adam Grant, seorang profesor di Wharton School, melakukan penelitian mendalam tentang bagaimana orang berinteraksi di lingkungan kerja dan sosial. Hasilnya sangat memukau. Berdasarkan orientasi resiprositas (timbal balik), manusia secara umum terbagi menjadi dua kelompok ekstrem.
Tipe A: Sang Pengambil (The Takers)
Takers adalah individu yang selalu berusaha mendapatkan lebih dari yang mereka berikan. Mereka melihat dunia sebagai permainan zero-sum (jika orang lain menang, maka saya kalah). Interaksi sosial bagi mereka adalah sebuah transaksi di mana mereka harus keluar sebagai pihak yang paling diuntungkan.
Karakteristik Takers di tempat kerja sangat mudah dikenali: mereka gemar mengklaim pekerjaan tim sebagai ide mereka sendiri, mereka “menjilat ke atas dan menendang ke bawah” (bersikap sangat manis kepada atasan namun kasar kepada bawahan), dan mereka sangat perhitungan saat dimintai tolong, selalu berpikir, “Apa untungnya hal ini bagi saya?”
Tipe B: Sang Pemberi (The Givers)
Berlawanan secara diametral, Givers adalah tipe orang yang fokus pada orang lain ( other-focused). Mereka lebih memperhatikan apa yang dibutuhkan oleh orang lain dari mereka. Mereka berbagi keahlian, memberikan waktu untuk mementori kolega junior, dan menghubungkan orang-orang tanpa mengharapkan imbalan instan.
Banyak yang mengira bahwa menjadi Givers akan membuat seseorang mudah dimanfaatkan dan kalah dalam kompetisi karir. Fakta datanya justru mengejutkan: meskipun Givers yang tidak memiliki batasan diri memang berisiko mengalami burnout (kelelahan ekstrem), Givers yang cerdas (mereka yang berbuat baik namun tetap memiliki batasan asertif) terbukti menempati posisi puncak kesuksesan di hampir semua metrik profesional. Mengapa? Karena mereka membangun modal sosial berupa reputasi, kepercayaan, dan jaringan loyal yang tidak bisa dibeli dengan uang.
4. Dimensi Kepuasan: Pengejar Instan vs Pembangun Sistem
Di era digital tahun 2026 yang serba cepat ini, rentang perhatian manusia menyusut drastis. Algoritma media sosial dirancang untuk memberikan kita suntikan dopamin (hormon kesenangan) setiap kali kita menggulir layar. Hal ini melahirkan polarisasi tipe manusia yang sangat kontras dalam cara mereka merancang masa depan.
Tipe A: Pengejar Gratifikasi Instan (Instant Gratification)
Tipe ini tidak tahan dengan proses yang membosankan. Mereka menginginkan hasil kemarin. Mereka membeli pil penurun berat badan alih-alih pergi ke pusat kebugaran dan mengatur pola makan. Mereka mencari skema “cepat kaya” seperti judi online atau investasi bodong berkedok crypto koin micin alih-alih membangun portofolio investasi jangka panjang yang membosankan namun aman.
Ketika mereka mulai mempelajari keahlian baru (misalnya belajar bahasa pemrograman atau bahasa asing), dan menyadari bahwa hal tersebut sulit dan memakan waktu berbulan-bulan, mereka akan langsung berhenti di minggu kedua dan mencari hobi baru yang lebih mudah memberikan kepuasan instan. Kehidupan mereka seperti rollercoaster emosi yang melelahkan.
Tipe B: Penganut Penundaan Kepuasan (Delayed Gratification) & Pembangun Sistem
Tipe kedua ini sangat langka dan berharga. Mereka memahami prinsip “Bunga Majemuk” (Compound Interest), bukan hanya dalam konteks finansial, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan. Mereka menyadari bahwa hal-hal besar membutuhkan waktu.
Mereka rela menunda kesenangan kecil hari ini demi imbalan yang jauh lebih masif di masa depan. Alih-alih menetapkan tujuan yang muluk-muluk lalu kehabisan motivasi, mereka fokus membangun sistem dan kebiasaan kecil ( atomic habits). Mereka lebih peduli untuk menjadi 1% lebih baik setiap harinya. Mereka adalah orang-orang yang bisa tetap bekerja dalam diam saat tidak ada yang memberikan tepuk tangan, karena motivasi mereka berasal dari dalam (intrinsik), bukan dari validasi eksternal (ekstrinsik).
Menjembatani Jurang: Anda Bukanlah Pohon, Anda Bisa Berpindah
Setelah membaca pembedahan keempat dimensi di atas, pikiran Anda mungkin mulai melakukan evaluasi. Mungkin Anda menyadari bahwa Anda adalah seorang Proaktif di lingkungan kerja, namun berubah menjadi Fixed Mindset dan Reaktif ketika berhadapan dengan masalah keluarga. Itu adalah hal yang sangat manusiawi. Tidak ada manusia yang 100% sempurna berada di sisi kanan pada setiap saat.
Namun, esensi dari menyadari bahwa ada 2 tipe orang di dunia ini adalah tentang kesadaran diri (self-awareness). Tipe-tipe kepribadian dan pola pikir ini bukanlah takdir genetik yang diukir di atas batu. Mereka adalah kebiasaan kognitif. Dan seperti layaknya kebiasaan lainnya, mereka bisa dipelajari, dibongkar (unlearned), dan dibentuk ulang.
Jika Anda menyadari bahwa selama ini Anda lebih sering bermain di area yang merugikan diri Anda sendiri (seperti mentalitas korban, mencari kepuasan instan, atau pola pikir tetap), berhentilah menghakimi diri sendiri. Penghakiman hanya akan mengaktifkan pertahanan ego. Sebaliknya, gunakan kejujuran radikal.
Sadarilah bahwa Anda bukanlah pohon yang tertanam kaku di tanah. Anda memiliki mobilitas penuh untuk berpindah. Jika cara Anda menavigasi kehidupan selama ini belum membuahkan kebahagiaan, kedamaian finansial, atau kualitas hubungan yang Anda inginkan, mungkin ini saatnya untuk berhenti menyalahkan keadaan dan mulai mengubah secara perlahan tipe manusia seperti apa Anda merespons dunia.
Realitas kehidupan memang kompleks, penuh warna abu-abu, dan sering kali tidak adil. Namun, cara kita memfilter dan merespons realitas tersebut pada akhirnya akan selalu mengerucut pada opsi biner: Apakah Anda akan membiarkan masalah mendikte Anda, atau Anda yang akan mendikte jalan keluar dari masalah tersebut? Apakah Anda akan terus meminta kepada dunia, atau Anda akan mulai memberi nilai tambah?
Memilih untuk menjadi individu dengan pola pikir bertumbuh, proaktif, berorientasi memberi, dan tahan terhadap proses panjang memang tidak mudah. Ini adalah jalan yang sepi dan mendaki. Namun, di ujung jalan itulah karakter yang sejati dan kesuksesan yang berkelanjutan berada.
Jadi, setelah merenungkan kembali perjalanan hidup Anda hingga hari ini, cobalah tatap cermin dan tanyakan pada diri Anda pertanyaan yang paling fundamental: Dari 2 tipe orang di dunia ini, Anda memilih untuk menjadi yang mana mulai esok pagi?
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


