Dunia kerja telah berubah secara drastis dalam satu dekade terakhir. Kantor tidak lagi terbatas pada gedung bertingkat dengan sekat-sekat kubikel. Kini, kantor bisa berada di tepi pantai, di kedai kopi yang nyaman, atau di pegunungan yang sejuk. Fenomena digital nomad atau pengembara digital telah membuka mata banyak orang bahwa bekerja bisa dilakukan dari mana saja.
Selama bertahun-tahun, Bali (Indonesia) dan Chiang Mai (Thailand) memegang mahkota sebagai ibu kota digital nomad di Asia Tenggara. Namun, angin perubahan mulai bertiup. Belakangan ini, perhatian komunitas pekerja jarak jauh dunia mulai beralih ke tetangga kita di utara. Semakin banyak pembicaraan di forum-forum internasional tentang bagaimana Vietnam jadi negara favorit digital nomad baru yang menyaingi destinasi klasik lainnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa negara yang dulunya dikenal tertutup dan identik dengan sejarah perang ini tiba-tiba menjadi magnet bagi para pekerja lepas, programmer, dan kreator konten dari seluruh dunia? Dalam artikel ini, kita akan membedah alasan-alasan kuat di balik fenomena tersebut.
1. Biaya Hidup yang Sangat Terjangkau
Alasan paling pragmatis dan utama mengapa Vietnam jadi negara favorit digital nomad adalah faktor ekonomi. Harus diakui, salah satu motivasi menjadi digital nomad adalah melakukan geo-arbitrage—mendapatkan penghasilan dalam mata uang yang kuat (seperti USD atau Euro) namun membelanjakannya di negara dengan biaya hidup rendah.
Vietnam adalah juara dalam kategori ini. Dibandingkan dengan Singapura, Jepang, atau bahkan kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, biaya hidup di Vietnam sangatlah bersahabat.
- Akomodasi: Anda bisa menyewa apartemen studio modern, full-furnished, lengkap dengan layanan kebersihan dan laundry di kota besar seperti Ho Chi Minh City atau Hanoi dengan harga berkisar antara $300 hingga $500 (sekitar 4,5 hingga 7,5 juta Rupiah) per bulan. Di kota yang lebih santai seperti Da Nang, harganya bisa lebih murah lagi.
- Makan: Street food atau jajanan kaki lima di Vietnam bukan hanya lezat tapi juga sangat murah. Semangkuk Pho atau Banh Mi yang otentik bisa didapatkan dengan harga di bawah $2 (Rp 30.000). Bahkan untuk makan di restoran ber-AC pun, harganya masih sangat masuk akal.
Kombinasi biaya sewa dan pangan yang rendah memungkinkan para digital nomad untuk menabung lebih banyak atau meningkatkan kualitas hidup mereka secara signifikan dibandingkan saat tinggal di negara asal mereka.
2. Koneksi Internet yang Cepat dan Stabil
Bagi seorang pekerja jarak jauh, internet adalah oksigen. Tanpa koneksi yang stabil, pekerjaan akan terhambat dan gaya hidup nomad menjadi bencana. Untungnya, Vietnam memahami kebutuhan ini dengan sangat baik.

Infrastruktur internet di Vietnam telah berkembang pesat. Kecepatan Wi-Fi di kafe-kafe, coworking space, hingga penginapan rata-rata sangat kencang dan stabil. Bahkan, data seluler (4G/5G) di sana sangat murah. Anda bisa mendapatkan paket data dengan kuota besar (atau unlimited) dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan di banyak negara barat.
Ketersediaan internet yang andal ini menjadi fondasi kuat mengapa Vietnam jadi negara favorit digital nomad. Anda bisa melakukan panggilan video via Zoom tanpa gangguan, mengunggah file besar, atau melakukan coding jarak jauh dari kedai kopi pinggir jalan sekalipun.
3. Budaya Kopi yang Mendukung Produktivitas
Berbicara tentang kedai kopi, Vietnam adalah surganya pecinta kafein. Budaya “nongkrong” di kafe sudah mendarah daging bagi warga lokal, jauh sebelum gelombang digital nomad datang.
Kafe di Vietnam bukan sekadar tempat minum, tetapi ruang ketiga (third place) untuk bersosialisasi dan bekerja. Di kota-kota seperti Hanoi dan Ho Chi Minh City, Anda akan menemukan ribuan kafe dengan konsep unik—mulai dari kafe trotoar dengan kursi plastik kecil hingga coffee shop industrial yang aesthetic dan Instagramable.
Yang membuat Vietnam jadi negara favorit digital nomad dalam aspek ini adalah sikap pemilik kafe yang sangat ramah terhadap pekerja laptop. Jarang sekali Anda akan diusir karena duduk terlalu lama. Sebaliknya, banyak kafe menyediakan colokan listrik di setiap meja dan Wi-Fi gratis yang kencang, seolah-olah mengundang Anda untuk bekerja di sana seharian. Menu kopi khas seperti Ca Phe Sua Da (es kopi susu) atau Egg Coffee menjadi teman setia saat mengejar tenggat waktu.
4. Kebijakan E-Visa Baru yang Sangat Memudahkan
Ini adalah game changer atau faktor penentu terbesar di tahun 2023 dan 2024. Sebelumnya, tantangan terbesar tinggal di Vietnam adalah masalah visa yang hanya berlaku 30 hari, yang memaksa para nomad untuk sering melakukan visa run (keluar masuk negara) yang melelahkan dan mahal.
Namun, pemerintah Vietnam merespons tren global dengan sangat cerdas. Sejak Agustus 2023, Vietnam memberlakukan kebijakan E-Visa baru yang memungkinkan wisatawan (termasuk digital nomad) untuk tinggal selama 90 hari (3 bulan) dengan entri ganda (multiple entry).
Kebijakan ini memberikan kepastian dan kenyamanan. Para pekerja jarak jauh tidak perlu lagi pusing memikirkan imigrasi setiap bulan. Mereka bisa menetap, membangun rutinitas, dan benar-benar merasakan kehidupan lokal. Kemudahan birokrasi ini tak pelak membuat Vietnam jadi negara favorit digital nomad yang mencari basis jangka menengah di Asia.
5. Pilihan Destinasi yang Beragam: Dari Kota Metropolitan hingga Pantai
Vietnam adalah negara yang memanjang dari utara ke selatan, menawarkan variasi lanskap dan suasana kota yang sangat beragam. Fleksibilitas ini sangat menarik bagi digital nomad.

- Ho Chi Minh City (Saigon): Bagi mereka yang menyukai energi kota metropolitan yang sibuk, kehidupan malam yang gemerlap, dan komunitas startup yang berkembang, Saigon adalah tempatnya.
- Hanoi: Bagi pecinta budaya, sejarah, dan suasana yang lebih puitis dengan empat musim yang lebih terasa, ibu kota di utara ini menawarkan pesona tua yang tak lekang oleh waktu.
- Da Nang & Hoi An: Ini adalah primadona baru. Da Nang terletak di tengah Vietnam, menawarkan kombinasi sempurna antara kenyamanan kota modern dan keindahan pantai. Jaraknya pun hanya 30 menit dari kota tua Hoi An yang magis. Banyak yang bilang Da Nang adalah “Bali-nya Vietnam” namun dengan jalanan yang lebih lebar dan kemacetan yang lebih sedikit.
Keberagaman opsi ini memastikan bahwa tipe kepribadian apa pun akan menemukan tempat yang cocok di sini, yang semakin memperkuat alasan kenapa Vietnam jadi negara favorit digital nomad.
6. Komunitas yang Bertumbuh Pesat
Manusia adalah makhluk sosial, dan kesepian sering menjadi musuh utama gaya hidup nomaden. Di Vietnam, komunitas ekspatriat dan digital nomad sedang tumbuh dengan sangat subur.
Terutama di Da Nang dan kawasan Thao Dien di Ho Chi Minh City, Anda bisa dengan mudah menemukan acara jejaring (networking events), lokakarya, hingga pertemuan sosial santai. Coworking space seperti Toong atau Dreamplex menjadi pusat berkumpulnya para profesional dari berbagai negara.
Kemudahan untuk terhubung dengan orang-orang yang memiliki pola pikir serupa (like-minded people) membuat proses adaptasi di negara baru menjadi jauh lebih mudah. Anda tidak akan merasa sendirian karena ekosistem pendukungnya sudah terbentuk dengan baik.
7. Keamanan dan Stabilitas
Faktor keamanan sering kali menjadi pertimbangan utama, terutama bagi solo traveler wanita. Vietnam secara umum dikenal sebagai salah satu negara teraman di Asia Tenggara untuk wisatawan. Tingkat kejahatan kekerasan sangat rendah. Meskipun pencopetan kecil di daerah wisata tetap perlu diwaspadai, secara keseluruhan lingkungan sosial di Vietnam sangat stabil.
Stabilitas politik dan ekonomi Vietnam yang terus tumbuh juga memberikan rasa aman bagi mereka yang ingin tinggal lebih lama. Tidak adanya konflik sipil atau kekacauan politik yang berarti membuat Vietnam jadi negara favorit digital nomad yang menginginkan ketenangan pikiran saat bekerja.
Tantangan yang Perlu Diketahui
Tentu saja, tidak ada tempat yang sempurna. Meskipun Vietnam jadi negara favorit digital nomad, ada beberapa tantangan yang perlu disiapkan:
- Bahasa: Di luar area turis dan kota besar, kendala bahasa masih cukup terasa. Tidak semua warga lokal fasih berbahasa Inggris. Namun, aplikasi penerjemah dan bahasa tubuh biasanya sudah cukup untuk komunikasi sehari-hari.
- Lalu Lintas: Lalu lintas di kota besar seperti Hanoi dan Saigon bisa sangat kacau (chaotic). Lautan sepeda motor yang tidak ada habisnya mungkin akan membuat pendatang baru merasa terintimidasi untuk menyeberang jalan, apalagi berkendara sendiri.
- Polusi Udara: Di musim-musim tertentu, kualitas udara di kota-kota besar bisa menurun. Namun, ini bisa diatasi dengan memilih tinggal di kota pesisir seperti Da Nang atau Nha Trang yang udaranya jauh lebih bersih.
Kesimpulan: Vietnam Layak Jadi Destinasi Selanjutnya
Melihat kombinasi antara biaya hidup rendah, internet kencang, budaya kopi yang luar biasa, serta kebijakan visa 90 hari yang revolusioner, tidak mengherankan jika Vietnam jadi negara favorit digital nomad saat ini.
Negara ini menawarkan keseimbangan yang sulit ditemukan di tempat lain: fasilitas modern yang mendukung produktivitas kerja, berpadu dengan kekayaan tradisi, kuliner lezat, dan keindahan alam yang memukau.
Bagi Anda yang sedang merencanakan petualangan kerja jarak jauh berikutnya, Vietnam bukan sekadar alternatif pengganti Bali atau Thailand. Vietnam adalah destinasi utama yang menawarkan pengalaman unik dan peluang untuk hidup berkualitas dengan biaya yang efisien. Siapkan laptop Anda, ajukan E-Visa, dan bersiaplah menyapa pagi dengan segelas Ca Phe Sua Da di Negeri Naga Biru ini.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


