Physalis adalah genus tanaman berbunga dalam keluarga Solanaceae (keluarga terong-terongan), yang mencakup sekitar 75 hingga 90 spesies. Buah ini memiliki ciri khas yang sangat ikonik: buahnya yang bulat kecil tersembunyi di dalam kelopak bunga yang membesar, menyerupai lampion kertas atau kantung kecil. Inilah sebabnya mengapa di luar negeri, Physalis sering dijuluki sebagai Chinese Lantern atau Groundcherry.
Morfologi dan Karakteristik Tanaman
Tanaman Physalis umumnya tumbuh sebagai herba semusim atau tahunan. Mereka memiliki batang yang berongga dan daun berbentuk hati dengan tepian yang terkadang bergelombang. Namun, bintang utamanya adalah buahnya.
- Kelopak (Calyx): Saat pembuahan terjadi, kelopak bunga tidak gugur melainkan tumbuh membesar membungkus buah. Fungsinya adalah sebagai perlindungan alami dari hama dan cuaca. Saat sudah matang, kelopak ini akan mengering seperti kertas.
- Buah: Di dalamnya terdapat buah beri berbentuk bulat. Warnanya bervariasi tergantung spesies, mulai dari kuning terang, oranye, hingga ungu tua.
- Rasa: Physalis memiliki profil rasa yang kompleks—perpaduan antara manis, asam segar, dengan sedikit aroma tropis yang mirip dengan nanas atau tomat ceri.

Sumber Foto: https://ripe.london/product/physalis-punnet/?srsltid=AfmBOopOk7Xdnur-MYZ5-46CGjDWX-Ibf6–imGRxVhgUdHUsUORPeQY
Jenis-Jenis Physalis yang Populer
Meskipun genusnya luas, ada beberapa jenis yang paling sering dibudidayakan untuk konsumsi:
- Physalis peruviana (Golden Berry/Cape Gooseberry): Berasal dari pegunungan Andes. Ini adalah varietas paling populer di pasar internasional karena ukurannya yang lebih besar dan rasa manis yang kuat.
- Physalis angulata (Ciplukan Hijau): Jenis yang paling umum ditemukan liar di Indonesia. Buahnya cenderung lebih kecil dan sering digunakan dalam pengobatan tradisional.
- Physalis philadelphica (Tomatillo): Berbeda dengan saudaranya yang manis, Tomatillo berukuran lebih besar, berwarna hijau, dan merupakan bahan utama dalam saus salsa Meksiko.
Kandungan Nutrisi: Si Kecil yang Padat Gizi
Jangan tertipu oleh ukurannya yang mungil. Physalis adalah bom nutrisi yang menawarkan berbagai vitamin dan mineral esensial. Dalam setiap 100 gram buah Physalis, terkandung:
| Nutrisi | Manfaat Utama |
| Vitamin C | Meningkatkan sistem imun dan produksi kolagen. |
| Vitamin A | Menjaga kesehatan mata dan integritas kulit. |
| Antioksidan (Polifenol & Karotenoid) | Melawan radikal bebas dan peradangan kronis. |
| Serat | Melancarkan pencernaan dan mengontrol gula darah. |
| Withanolides | Senyawa organik yang berpotensi sebagai anti-kanker. |
Manfaat Physalis bagi Kesehatan
1. Efek Anti-Inflamasi dan Anti-Kanker
Penelitian menunjukkan bahwa Physalis mengandung senyawa withanolides. Senyawa ini secara genetik mirip dengan yang ditemukan pada tanaman Ashwagandha, yang dikenal mampu menghambat pertumbuhan sel kanker dan mengurangi peradangan dalam tubuh.
2. Mendukung Kesehatan Jantung
Buah ini mengandung fitosterol, sejenis senyawa tanaman yang membantu menurunkan jumlah kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Selain itu, kandungan kaliumnya membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
3. Mengontrol Gula Darah
Bagi penderita diabetes, Physalis bisa menjadi camilan yang aman. Senyawa tertentu dalam buah ini diketahui dapat memperlambat pemecahan dan penyerapan gula dari karbohidrat, sehingga mencegah lonjakan glukosa secara tiba-tiba.
4. Kesehatan Mata
Dengan kandungan Vitamin A dan lutein yang tinggi, konsumsi rutin Physalis dapat membantu mencegah degenerasi makula dan katarak, terutama seiring bertambahnya usia.
Budidaya dan Perawatan
Physalis termasuk tanaman yang tangguh dan relatif mudah ditanam, bahkan bagi pemula.
- Iklim: Mereka menyukai sinar matahari penuh tetapi bisa mentoleransi sedikit naungan. Di daerah tropis seperti Indonesia, tanaman ini tumbuh subur sepanjang tahun.
- Tanah: Tidak menuntut jenis tanah tertentu, asalkan drainasenya baik. Physalis tidak suka “kaki yang basah” atau air yang menggenang.
- Pemanenan: Buah siap dipanen ketika kelopaknya sudah berubah warna dari hijau menjadi kecokelatan atau kering seperti perkamen. Jika buah jatuh ke tanah, itu biasanya merupakan indikator kematangan sempurna.

Sumber Foto: https://keyserver.lucidcentral.org/weeds/data/media/Html/physalis_angulata.htm
Pemanfaatan dalam Kuliner
Physalis adalah buah yang sangat serbaguna di dapur:
- Camilan Segar: Dimakan langsung setelah dikupas dari kulit kertasnya.
- Garnish: Karena bentuknya yang cantik, sering digunakan untuk menghias kue pengantin atau dessert mewah.
- Selai dan Saus: Kandungan pektin yang tinggi membuatnya sangat cocok diolah menjadi selai atau saus untuk daging panggang.
- Dikeringkan: Physalis yang dikeringkan (seperti kismis) memiliki rasa asam-manis yang pekat dan sering dicampur ke dalam muesli atau granola.
Penjelasan Tambahan: Mengapa Physalis Sempat Terlupakan?
Di Indonesia, Ciplukan sempat dianggap “makanan ular” atau tanaman liar yang tidak berharga. Hal ini disebabkan oleh kurangnya literasi mengenai kandungan nutrisinya dan persepsi masyarakat yang lebih memilih buah-buah impor berukuran besar.
Namun, seiring dengan tren gaya hidup sehat global, Physalis kini kembali naik daun. Penelitian modern telah memvalidasi apa yang sebenarnya sudah diketahui oleh nenek moyang kita dalam pengobatan herbal: bahwa tanaman ini adalah apotek hidup.
Kesimpulan
Physalis adalah bukti nyata bahwa alam menyimpan keajaiban dalam kemasan kecil. Dari kelopak pelindungnya yang unik hingga kandungan withanolides yang ampuh melawan penyakit, buah ini menawarkan paket lengkap antara estetika, rasa, dan kesehatan.
Membudidayakan atau mengonsumsi Physalis bukan sekadar mengikuti tren superfood, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan tubuh. Baik Anda mengenalnya sebagai Ciplukan di pinggir jalan atau Golden Berry di kafe mewah, esensinya tetap sama: buah mungil dengan manfaat raksasa.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


