Laksa Singapura, atau yang lebih dikenal secara global sebagai Katong Laksa, adalah salah satu hidangan paling ikonik yang mendefinisikan identitas kuliner “Kota Singa”. Hidangan ini bukan sekadar sup mi biasa; ia adalah representasi dari sejarah panjang asimilasi budaya di Asia Tenggara, khususnya perpaduan antara tradisi kuliner Tionghoa dan Melayu yang melahirkan kebudayaan Peranakan (Baba-Nyonya).
Dengan kuah kental berwarna jingga yang memikat, aroma kelapa yang gurih, dan sengatan rempah yang kaya, Laksa Singapura telah berevolusi dari makanan rumahan sederhana menjadi kuliner kelas dunia yang diakui oleh para kritikus makanan internasional. Artikel ini akan membedah anatomi Laksa Singapura, melacak akar sejarahnya, serta memahami mengapa hidangan ini dianggap sebagai “jiwa” dari kuliner Singapura.
I. Anatomi dan Keunikan Rasa

Laksa Singapura memiliki karakteristik yang sangat spesifik yang membedakannya dari jenis laksa lain di wilayah tersebut, seperti Laksa Penang yang cenderung asam dan encer (Assam Laksa).
A. Kuah Santan yang Kaya (Lemak)
Inti dari Laksa Singapura adalah kuahnya yang berbasis santan. Kata “lemak” dalam bahasa Melayu merujuk pada rasa gurih dan tekstur krim dari santan kelapa. Kuah ini dihasilkan dari perpaduan santan kental dengan bumbu halus (rempah) yang terdiri dari:
- Cabai kering: Memberikan warna jingga kemerahan dan rasa pedas.
- Lengkuas dan Serai: Memberikan aroma segar dan tajam.
- Kunyit: Memberikan kedalaman warna dan aroma tanah.
- Ebi (Udang Kering): Inilah kunci keajaiban rasa gurih (umami) pada Laksa Singapura. Udang kering yang disangrai dan dihaluskan memberikan tekstur pasir yang unik dan aroma laut yang kuat.
B. Mi dan Teknik Penyajian “Katong”
Secara tradisional, Laksa Singapura menggunakan mi putih tebal dari tepung beras. Salah satu varian paling populer adalah Katong Laksa, yang memiliki ciri khas unik: minya dipotong-potong pendek.
- Tanpa Sumpit: Karena minya pendek, Katong Laksa adalah satu-satunya hidangan mi yang secara tradisional dimakan hanya menggunakan sendok bebek. Anda tidak memerlukan sumpit untuk menikmati hidangan ini, memungkinkan setiap suapan membawa kombinasi sempurna antara mi, isian, dan kuah kental sekaligus.
C. Bahan Pelengkap (Topping)
Semangkuk Laksa Singapura yang autentik biasanya dilengkapi dengan:
- Udang: Segar dan kenyal.
- Kerang Dara (Cockles): Memberikan rasa metallic laut yang khas. Banyak penggemar laksa menganggap kerang sebagai komponen wajib.
- Tau Pok (Tahu Pong): Tahu ini berfungsi seperti spons yang menyerap kuah laksa ke dalamnya.
- Fishcake: Irisan bakso ikan yang memberikan tekstur kenyal.
- Daun Kesum (Laksa Leaf): Irisan halus daun ini adalah sentuhan akhir yang memberikan aroma herbal yang sangat spesifik dan tak tergantikan.
II. Sejarah dan Akulturasi Budaya

Source: https://www.marionskitchen.com/katong-laksa/
Laksa adalah bukti nyata dari konsep melting pot di Asia Tenggara.
A. Akar Peranakan
Nama “Laksa” sendiri memiliki banyak teori asal-usul. Ada yang menyebut berasal dari bahasa Sansekerta Lakshas (seratus ribu) yang merujuk pada banyaknya bahan yang digunakan, atau dari kata Mandarin La Sha (pasir pedas) karena tekstur ebi di dalam kuahnya.
Hidangan ini lahir ketika para pedagang dari Tiongkok menetap di wilayah pesisir seperti Melaka, Penang, dan Singapura, kemudian menikah dengan wanita lokal (Melayu). Para istri (Nyonya) mencampurkan bahan-bahan dari Tiongkok (seperti mi dan bakso ikan) dengan rempah-rempah lokal serta santan. Hasilnya adalah Laksa Peranakan, yang kemudian berkembang menjadi versi Singapura yang kita kenal sekarang.
B. Legenda Katong
Pada tahun 1960-an, di wilayah Katong, Singapura, seorang pedagang bernama Jangkut (Ng Juat Swee) mulai menjual laksa dengan mi yang dipotong-potong. Gaya penyajian ini menjadi sangat populer dan memicu persaingan “Laksa Katong” yang terkenal hingga hari ini. Wilayah pesisir Katong pun menjadi pusat ziarah kuliner bagi siapa pun yang mencari laksa paling autentik.
III. Makna Sosial dan Status Global

Source: https://www.orami.co.id/magazine/resep-laksa-singapore
A. Simbol Multikulturalisme
Laksa Singapura melambangkan kerukunan etnis. Di pusat jajanan (Hawker Center), Anda akan melihat orang-orang dari berbagai latar belakang etnis—Tionghoa, Melayu, India, dan ekspatriat—semuanya berkeringat bersama menikmati pedasnya laksa. Ini adalah hidangan yang menyatukan bangsa.
B. Pengakuan Internasional
Laksa Singapura secara konsisten masuk dalam daftar “Makanan Terbaik di Dunia” versi CNN Travel. Popularitasnya telah membawa laksa ke berbagai belahan dunia, dari London hingga New York, menjadikannya duta budaya Singapura yang paling efektif.
Penjelasan
Artikel ini disusun untuk memberikan pandangan menyeluruh mengenai Laksa Singapura. Pembahasan dibagi menjadi tiga bagian strategis:
- Anatomi Rasa: Menjelaskan secara teknis mengapa laksa ini unik, termasuk penggunaan ebi untuk tekstur “pasir” dan penggunaan sendok tanpa sumpit pada gaya Katong.
- Sejarah: Melacak akar budaya Peranakan sebagai jembatan antara tradisi kuliner Tiongkok dan lokal.
- Signifikansi: Menunjukkan peran laksa bukan hanya sebagai makanan, tapi sebagai simbol multikulturalisme Singapura.
Kesimpulan
Laksa Singapura adalah mahakarya kuliner yang lahir dari pertemuan dua budaya besar di Asia Tenggara. Keunikannya terletak pada kuah santan kental yang kaya akan rasa udang kering dan aroma daun kesum, serta teknik penyajian praktis menggunakan sendok.
Secara filosofis, Laksa Singapura adalah “sejarah dalam semangkuk kuah”. Ia mencerminkan kemampuan Singapura untuk mengambil berbagai elemen budaya yang berbeda dan menyatukannya menjadi sesuatu yang harmonis, kuat, dan mendunia. Menikmati Laksa Singapura bukan hanya tentang mengecap rasa pedas dan gurih, melainkan tentang merasakan warisan tradisi Peranakan yang terus hidup dan beradaptasi dengan zaman.
Tunggu apa lagi? Yuk, ajak bestie atau keluarga kamu ke Royal ole2 untuk berbelanja oleh-oleh,tersedia 2000 varian oleh oleh didalam nya.
Cari produk oleh oleh lainya cuma di Royal Ole2
Jangan lewatkan update royalole2 di Instagram Royal Ole2


